Bapak
Bapak saya namanya Harinto. Udah gitu aja. Sering karena namanya kependekan, akhirnya tiap kali bapak nulis nama dikasih spasi biar kelihatan panjang, kayak gini nih:
h a r i n t o
Bapak saya pendiam dalam keluarga, tapi bisa lebih terbuka jika di depan umum. Sering kalo temen-temen saya ke rumah, Bapak akan bersikap akrab layaknya anak sendiri. Tapi kalo sama keluarga sendiri, beuh pendiem banget wkwk
Bapak baru aja menyelesaikan kuliah S1nya 2 tahun lalu. Udah punya gelar dong ya. Tapi bapak saya berbeda. Disaat orang lain berlomba memajang nama mereka dengan gelarnya sepanjang mungkin, bapak saya tetap setia menggunkan nama aslinya.
h a r i n t o

Ibuk
Ibuk kebalikan dari bapak. Maka ga heran kalo tiap hari mereka bertengkar kecil tentang hal remeh. Well, sebenernya cuma ibuk aja yang ngomel-ngomel, bapak tetep pasang sikap sok cool hahaha.
Ibuk banyak bicara, tipikal ibu penyayang pada umumnya. Tiap hari ngeledek saya yang endut tapi cemas berlebihan kalo saya ga makan sampe siang. Hufht kapan kurus coba
Ibuk mudah tersentuh, baik cerita di tv apa kejadian yang ibu jumpai sehari-hari. Ada tukang tape lewat seminggu sekali didepan rumah, ibuk pasti beli. Kasian, jalan jauh nenteng tape, kata ibuk. Ada tukang gethuk lewat depan rumah, ibuk pasti beli. Kangen makan gethuk, kata ibuk. Ada yang curhat kehidupannya sedikit, mata ibuk langsung berkaca-kaca. Setidaknya saya tahu sih darimana sifat cengeng saya berasal *ups

Rumah ini hangat dan menyenangkan. Bapak pulang, ibuk langsung ribet nyiapin es teh dan masakin sayur bening kesukaan bapak. Bapak piknik seharian, ibuk jadi agak galau dan sedih, juga ga sabar buat menanti bapak pulang piknik. Ibuk pergi kerumah pakuo pas bapak tidur, bapak bangun-bangun langsung nyariin. Mereka sering bertengkar tapi sering kangen juga. Keromantisan mereka mungkin ga kayak sinetron di tv-tv (sinetron India malah ngeri ya mamak mertuanya wkwk), tapi melihat mereka berdua hati saya jadi ayem, sekaligus bersyukur karna sudah ditakdirkan menjadi anak mereka.




"Sudah kuliah semester 6, kalian sudah dapet apa?"
(Bu Lina, dosen Pengelolaan Pasca Panen)

um.. Apa ya Bu?
Dapet IP juga gak bagus-bagus amat, gak kepikiran blas buat bisa cum laude :'D
Dapet ilmu. Hah, ilmu apa. Hari ini dapet, besoknya lupa lagi.
Dapet pengalaman magang ding Bu, bisa ngerasain jadi anak kost. Apa-apa sendiri. Ketar-ketir kalo tanggal tua.
Dapet pacar. Hehehehe...

Dapet apa ya Bu?
Kok saya jadi kepikiran terus sama pertanyaannya ibu.
Bentar lagi (semoga lancar amin) saya akan berhadapan dengan skripsi.
Nanti gimana ujian proposal saya ya Bu?
eh, outline aja belum selesai.
Udah kejauhan mikir sampe ujian proposal. Seminar hasil.
Review jurnal Pak Hambeg aja masih setengah dikerjain.

Saya harus gimana ya Bu?
Berat ini.
Niatan sudah ada. Sudah lancar mengerjakan dan menyicil tugas.
Buka google, aman. Gak ngelantur kemana-mana.
Giliran buka facebook, malah asik stalking temen-temen lama.
Capek buka facebook, ngecek hape, keterusan buka whatsaap.
buka BBM.
Instagram.
Main game Bung Kata
Main game Masak-Masak
Main game Piano Tiles.
Terakhirnya, baca webtoon horor sampe ketiduran.

Niatan saya hanya sebentar ya Bu?
Setelah itu gagal fokus lagi.
Sedih saya Bu, sedih.
Tapi herannya, kok ya masih saya ulangi terus.

Dikit-dikit saya berubah deh Bu.
Bukan buat ibu, tapi buat saya.
Bukan karena biar bisa jawab pertanyannya ibu,
tapi biar bisa jawab pertanyaan saya sendiri.
Mau kemana arah outlinemu?
Mau kerja dimana sehabis kuliah?
Apa kamu layak untuk bisa diterima bekerja di tempat incaranmu itu?

Doakan saya ya Bu,
Terima kasih untuk pertanyannya.
Hari ini tanggal 4 Februari 2014.
Tinggal 7 hari lagi bagi saya untuk menyelesaikan magang. Untuk bertemu Yoga.
Dih.. kangennya setengah mati!

Dahulu saya sering menganggap remeh mereka yang LDR-an, saya pikir ah cuma terpisah jarak jauh kok, apa sussahnya?
Sekarang saya ditampar balik sama perkataan saya sendiri. Asal tahu saja, ditampar balik itu lebih menyakitkan.

Saya magang di Kaliurang, sedangkan Yoga di Bogor. Pernah saya iseng-iseng mengukur jarak tempat kami magang dengan menggunakan Google Maps, hasilnya diperlukan kurang lebih 11 jam perjalanan dengan mobil untuk menempuh jarak Kaliurang-Bogor. Jarak terjauh yang pernah saya alami dengan Yoga sampai detik ini.
Sebelum magang, saya sudah memaksa mengancam janjian dengan Yoga untuk video call setiap malam sehabis jam kerja magang. Bahkan kami pergi ke counter bareng untuk membeli perdana berkuota besar agar LDR-an kami lancar. Sudah persiapan lah, istilahnya. Sudah punya bekal untuk jauh-jauhan selama sebulan.
Namun takdir berkata lain. Tempat Yoga magang sungguh pelosok, hanya satu provider saja yang bisa menjangkaunya (jangan menebak itu provider t***o**e* ya, sama sekali gak nyaut juga disana). Itupun hanya bisa sms dan telfon. Itupun harus jauh naik ke lapangan, jalan kaki biar bisa dapet sinyal buat telfon dan sms. Sia-sia kuota yang kami beli. Sia-sia.

Awal magang, saya benar-benar diuji. Saya terbiasa ketemu hampir tiap hari sama dia, watsapan hampir tiap malem. Sekarang buat sms aja susahnya minta ampun. Bisa nunggu semalaman cuma biar sms saya ke dia bisa kekirim. Sanggupkah saya? Sanggupkah kami?
Puji Tuhan, Yoga mau berjuang buat naik ke lapangan sehingga bisa nelfon. Puji Tuhan ada Virgi yang nemenin. Meskipun kadang saya kesal karna merasa dia sama sekali tidak berusaha untuk menghubungi saya, tapi saya tahu bahwa dia sudah berusaha sebisanya. Bahwa gak cuma saya aja yang kesiksa kala datang hujan lebat di malam hari atau ada tugas lembur mendadak sehingga kami tidak bisa sms atau telfon. Dia memang jarang bilang 'kangen' secara langsung, tapi hati saya bisa merasakannya kok :')

cepet pulang ya, Hasian. Seminggu lagi. Pulang Solo. Aku jemput kalo bisa.
Kungfu Panda 3 udah masuk coming soon lho.. Kita udah janjian mau nonton itu habis magan kan..
Aku mendokanmu disini seperti kamu mendoakanku disana. Biarlah untuk sebulan ini kita bertemu dalam doa dulu :')
Rinduku sudah tidak bisa digambarkan lagi. Tidak bisa dibandingkan lagi.
Seminggu lagi ya Hasian, seminggu lagi.
Aku menantimu.

Saat beban hidupku seakan bertambah berat,
Saat tanggung jawab yang kuemban semakin banyak,
Saat aku mulai dipercaya orang lain untuk menentukan dan memutuskan arah hidupku,

Kamu hadir, tepat pada waktunya.

Entah apa jadinya bila kamu tidak ada,
Atau bila kamu hanya hadir seperti orang lain. Hadir tanpa kesan.

Tetaplah hadir
Tetaplah mendukungku meski tak banyak orang yang tahu
Tetaplah bersamaku meski banyak yang meremehkan bahwa ini akan berhasil.

toh bukan mereka yang tentukan, tetapi kita, tentu saja dengan penyertaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pasangan hidup tidak ditentukan, tapi dibentuk. :)

Saat ku hancur hati
Ku datang padaMu
Kau beri kekuatan dan b'ri penghiburan
Saat tak seorangpun dapat kuandalkan
Kau yang memberi jalan
Kau yang menuntunku

Saat ku tak mengerti
Dalam hidup ini
Namun firmanMu selalu menerangiku
Engkau yang buatku kuat lewati semua
Engkau pertolonganku
Tempat harapanku

Tuhan, kupercaya janjiMu
Dalam hidupku
Kau b'ri kemenangan
Tuhan, Kau s'lalu setia
Didalam hidupku
Kau berharga bagiku
Kaulah jaminanku
Dalam hidupku
Minggu kedua perkuliahan.

Pukul 10.17 WIB. Masih aman, pikir saya. Hari ini ada kuliah Produksi dan Penyimpanan Benih pukul 10.15, semoga dosennya belum datanglah ya..

Saya melenggang santai melewati halaman depan gedung A dengan diiringi tatapan penasaran dari kakak-kakak tingkat yang duduk-duduk di depan lab HPT. Hari ini kampus sepi sekali! Heran. Biasanya jam segini udah ramai lho, apa saya yang datangnya kepagian ya?

Saya naik ke lantai dua. Suasananya tetap sepi.

Saya naik ke lantai tiga. Benar-benar senyap.

Saya mengintip kelas-kelas yang saya lewati. Semuanya sudah ada dosen. Wah, apa memang sekarang jam kuliah dibuat benar-benar on time ya?
Sampai di ruang 19, saya lihat Danu di pojokkan, masih pake jaket. Dia pasti telat kayak saya, karna rumah kita sama-sama jauh dan kita sama-sama sering kesiangan (sok tau banget ye wkwk). Saya masuk kelas dengan tenang, duduk di sebelah maymun, dan mendapat tatapan penasaran dari teman-teman lain, termasuk dosen.

'Hai.' Sapa saya ke Maymun dengan ramah.
'Kamu kemana aja?' Maymun melongo heran.
'Biasa, kesiangan..' Jawab saya santai sambil melepas jaket. 'Udah mulai lama to, Mun?'
'Banget.'
'Hahahahahaha.' Saya kira Maymun bercanda. Tapi raut mukanya tetap serius.
'Eh, beneran udah lama?'
'Udah yo. Kuliahnya mulai jam 09.20. Kan semua kelas serempak mulai jam segitu Hari Senin.'
'Eh?' Giliran saya yang megap-megap. Dengan panik mengeluarkan notes ajaib saya yang berisi jadwal kuliah.
'Nih, ini disini jam 10.15 kok.'
'Iya vie, kamu salah jadwal itu..'
'Kemaren aku telat juga gak papa. Kirain emang dosennya on time. Ternyata aku salah jadwal?'
'Iya hahaha.'
'Gak diusirpun sama dosen?'
'Gak mungkin lah diusir.'
Saya masih bengong. Berharap tidak dihapali dosen Produksi dan Penyimpanan Benih karena saya sudah dua kali telat datang, terlambat satu jam lagi.
Saya masih syok. Saya awali kuliah semester lima ini dengan mengucapkan..
'Duh!'

‘Dia akan mendampingi Maria seumur hidupnya dalam menunaikan tugasnya. Ada banyak pekerjaan yang dapat dilakukan oleh seorang insinyur di tempat yang terpencil ini, kata Maria tadi. Dan Guntur percaya pada kata-katanya. Dia juga percaya, tidak semua cinta harus diakhiri oleh sebuah perkawinan. Kadang-kadang tujuan yang lebih luhur lagi.’

Paragraf itu merupakan penggalan dari Novel Merpati Tak Pernah Ingkar Janji karya Mira W. Novel jadul memang, jadul banget. Secara novel itu difilmkan pada tahun 1985. Tahun 1985 saja bapak ibuk saya belum menikah hahaha. Tapi dari novel jadul itulah saya belajar banyak hal, sekaligus memiliki banyak pertanyaan, yang ditujukan buat diri ini sendiri.

Hal yang paling sulit dilakukan orang tua adalah membiarkan anaknya untuk bebas memilih. (Dedi Corbuzier)
Di awal novel, diceritakan bahwa Maria adalah gadis SMA yang sejak kecil sudah “diserahkan kepada Tuhan” oleh ayahnya, seorang Romo yang mundur dari komitmen untuk hidup selibat. Maria sejak kecil sudah dipersiapkan untuk menjadi biarawati, menggantikan ibunya yang mantan biarawati. Ya, ayah Maria adalah Romo dan ibu Maria adalah calon biarawati. Ayah Maria sering menjadi semacam dosen tamu bahasa latin di sekolah ibu Maria. Suatu ketika ayah Maria mengundurkan diri menjadi Romo dan Ibu Maria tidak melanjutkan sekolah biarawatinya. Ternyata mereka menikah, pindah ke Banyumas dan melanjutkan hidup bersama. Namun, ibu Maria meninggal saat melahirkan Maria. Romo merasa tragedi tersebut adalah hukuman untuknya sehingga ia bertekad mempersembahkan Maria kepada Tuhan untuk menyilih dosanya.
 ‘Aku telah mengambil milik Tuhan, Romo. Biarlah Tuhan mengambil milikku juga.’ (Handoyo, Ayah Maria)

Meskipun Maria bersekolah di sekolah khusus perempuan, dimana tidak ada satupun laki-laki di sekolah itu, namun tetap saja Maria merasa kaget dengan dunia barunya. Selama ini Maria tidak pernah bersekolah formal, ayah Maria hanya mendatangkan guru untuk mengajarinya di rumah. Bahkan (maaf) Maria tidak pernah memakai bra, bahkan tidak tau bra itu apa. Maria juga syok saat mendapat haidnya yang pertama (setting novelnya memang tahun ’80 an sih, malah saya lebih kaget kenapa Maria lama banget dapet haidnya wkwk. Pubertas memang terjadi lebih cepat sekarang). Teman-teman Maria juga bisa dibilang bandel, meski memang masih tergolong bandel SMA yang wajar, sih.
Konflik memuncak semenjak Maria mengenal cinta dari lelaki bernama Guntur (Tuh, lagi-lagi lakik. Emang semua tuh salahnya lakik). Guntur yang tampan, berani, dan gigih untuk mendekati Maria membuat Maria luluh bahkan –tanpa disadarinya- menaruh hati pada Guntur. Guntur bukan tokoh suci keleus, awalnya Guntur mendekati Maria semata-mata untuk menang taruhan. Namun semakin ia mengenal Maria, semakin ia sadar bahwa Maria berbeda, Maria unik. Dan maria pantas untuk diperjuangkan. Duh mas Guntur….
‘Terus terang mula-mula aku memang tidak serius dengan kamu. Aku tidak pernah serius dengan gadis manapun kok, Mar! tanya temen-temenmu deh kalau nggak percaya! Tapi entah mengapa setelah kita berada bersama-sama seharian itu, aku mulai tertarik kepadamu. Serius nih, Mar! Jadi kalau biara penuh atau kalau kamu ditolak karena tidak memenuhi syarat jadi biarawati atau ayahmu sakit-sakitan terus sehingga dia berubah pikiran, lebih baik menjadikan kamu dokter daripada pertapa, tolong ingat aku, Mar! Aku masih selalu menunggumu! Aku akan belajar baik-baik, merapikan rambutku, menukar T-shirt dan jeans kumalku dengan kemeja putih dan dasi supaya ayahmu tidak malu punya menantu seperti aku. Benar nih, Mar! Aku janji! Kapan kita ketemu lagi, Maria?’ (surat cinta Guntur untuk Maria. Jaman dulu udah ngomong jadi menantu-menantu ye padahal masih SMA hahaha)
Dapatkah kita mencintai tanpa memiliki?
Saya kasih tau ya, endingnya seperti apa. Toh di blog-blog lain juga udah dikasihtau kan hahaha.
Jadi, si Maria ini kabur dari rumah. Ayahnya memang menakutkan saat benar-benar marah, bahkan sampai memukul Maria. Tinggalah Maria di rumah Elita, sambil menunggu waktu yang tepat (entah kapan) untuk pulang. Tapi ayah Maria terlanjur marah besar, dan menganggap bahwa Guntur-lah yang membawa lari Maria. Kenapa ayah Maria bisa tau Guntur? Karena ayah Maria menemukan album foto berisi foto-foto Maria yang sedang berdansa bersama Guntur. Singkat cerita, ayah Maria melabrak Guntur di rumahnya, marah-marah mencari Maria. Teman-teman Guntur membela si Guntur dong, meski (menurut saya) dengan cara yang sangat tidak sopan untuk diperlihatkan di depan orang yang lebih tua.
Gatot, teman Guntur, menodongkan pistol ke ayah Maria sebagai tindakan intimidasi. Ayah Maria bukannya mundur malah semakin maju, menantang Gatot untuk segera menarik pelatuknya. Eh, ditarik beneran sama Gatot. Guntur sigap melindungi ayah Maria, namun dia terkena tembakan pas di hatinya (cieh. Loh wkwkwk). Gatot dan ayah Maria ditangkap polisi, Guntur berdarah-darah dioperasi di rumah sakit. Maria nih, sekalinya bikin masalah langsung bikin satu orang masuk rumah sakit..
Harapan hidup Guntur sangat kecil karena hati tidak bisa diangkat (ada nih, yang takut banget minum obat habis baca ‘disfungsi hati’ di kontra indikasinya. Hayo mas.. Hati yang sakit tidak bisa diangkat lho. Makanya kamu jangan menyakiti hatiku. Hati kita ding). Maria yang merasa bersalah langsung lari keluar dari rumah sakit lalu mencegat taksi (sorry to say, tapi ini memang drama banget) meninggalkan teman-teman yang memanggilnya untuk kembali, meninggalkan Guntur yang dalam kondisi setengah mati setengah hidup di rumah sakit, meninggalkan ayahnya yang harus mendekam di penjara beberapa bulan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Tetapi keputusan terakhir di tangan Tuhan. Dengan penciptanyalah manusia telah berjanji kapan dia harus kembali.

Lalu kemana Maria pergi? Dia kan tidak punya uang sebanyak Paman Gober untuk mengelilingi dunia naik taksi.
Bentar dulu to ah, sabar.

Lalu dia melihat patung itu. Patung yang menjulang tinggi di hadapannya. Patung yang mirip dengan gambar Yesus di kamarnya. Di Kaki-Nya-lah dia tersungkur. Dan tiba-tiba saja ada secercah kedamaian menjalari hati Maria.
“Kupersembahkan seluruh hidupku sebagai ganti hidupnya, Tuhan!” bisik Maria, terharu. “Kuserahkan diriku seutuhnya ke dalam tangan-Mu!”
Yow. Begitulah endingnya. Intinya Guntur sembuh, bertobat, sukses jadi insinyur. Maria, bagaikan merpati yang tidak pernah ingkar janji, tidak pernah mengingkari janjinya kepada ayah dan Tuhan untuk menjadi biarawati. Ayah Maria melakukan pelayanan di pedalaman Papua. PujiTuhan mereka dapat bertemu setelah 17 tahun berpisah. Meskipun mereka bertemu pada kondisi yang amat sangat mengharukan sekaligus menyayat hati. Jujur saya gak sampe hati buat menulis pertemuan mereka disini. Saya tidak terlalu tegar untuk melakukannya, maaf L

Saya ulangi lagi,
Dapatkah kita mencintai tanpa memiliki?
Ketika Guntur diantarkan meninjau keadaan rumah sakit itu, dan melihat apa artinya seorang Maria bagi pasien-pasien disini, tiba-tiba saja dia sadar, Maria terlalu mahal jika diciptakan hanya untuk melayaninya seorang diri.
Saya belajar banyak hal, banyak sekali, dari novel ini. Novel yang awalnya saya baca sambil lalu untuk mengisi waktu luang malah membuat perasaan saya jungkir balik pagi-pagi. Membuat saya bersyukur karena bisa mencintai bapaknya Bona tanpa harus merasa berdosa J

Merpati yang terbang lepas itu kini telah kembali ke sarang. Merpati memang tak pernah ingkar janji. Menjelang petang, dia pulang memenuhi janjinya.


Nb: semua kalimat yang tercetak tebal merupakan penggalan dari novel tersebut. Dan kata-kata bercetak tebal itulah yang sukses bikin saya nangis pagi-pagi.


Rabu keempat.
genggaman kita semakin erat
sebentar saja tak bertemu terasa berat.

Rabu keempat.
makin banyak air mata yang kuratap
menyadari bahwa kamulah yang terhebat.

Rabu keempat.
kuharap kita semakin bertahan
meski kadang aku sama sekali tidak pantas untuk kamu pertahankan.

Rabu keempat.
tetaplah setiap bulan memiliki rabu keempatnya.
tetaplah kita berlari bersama
tetaplah disini
tetaplah bersamaku
meski kadang aku membingungkan
meski kadang aku meresahkan

selamat Rabu keempat, sayang.
*tulisan ini dibuat tanpa maksud untuk menyinggung tentang sebuah golongan sedikitpun

Perkenalkan, saya Avie, si anak GKJ.
Bagi yang belum tahu apa itu GKJ, GKJ adalah singkatan dari Gereja Kristen Jawa. Tuh, ada kata "Jawa"nya. Cukup memperjelas tentang siapa orang yang beribadah disana, kan?

Saya baptis anak di GKJ
ikut sekolah minggu di GKJ
ngajar sekolah minggu di GKJ
ikut remaja di GKJ
baptis dewasa di GKJ
ikut pemuda di GKJ
yang belum cuma nikah di GKJ.
Hishh. Masih jauh itu mah. Ini sama sekali bukan kode ya.

Lambat laun saya mulai terusik oleh tata cara ibadah yang dilakukan oleh pemuda remaja di gereja saya.
Bisa dibilang, komisi pemuda remaja di gereja kami sangat dibebaskan oleh jemaat, majelis, dan pendeta untuk berkreativitas setinggi apapun. Mulai dari kreativitas acara ibadah sampe usaha dana.
Justru dari kebebasan yang terlalu bebas itulah, saya mulai khawatir dengan nasib kami kelak.

Coba bayangin deh.
Dari masih remaja kami sudah dilepas untuk beribadah senyaman kami. Jadilah, setiap PA (Pendalaman Alkitab), kami selalu pake lagu rohani populer
Lagu Kidung Jemaat? dih gak pernah.
Lagu Kidung Pasamuwan Kristen? Duhh apalagi.
Jangankan PA, untuk kebaktian yang lebih formalpun kami tetap memakai lagu rohani populer. Lagu Kidung Jemaat sangat amat jarang dinyanyikan. Kalau menyanyikan lagu Kidung Jemaatpun, selalu lagu-lagu yang sudah akrab di telinga saja yang dipilih. Giliran menyanyikan Kidung Jemaat yang sebenarnya umum dipakai tapi jarang terdengar, kami malah bengong menatap layar LCD tanpa berkedip.

Saya bukannya tidak menyukai lagu rohani popular ya.
Saya suka banget. Saya lihat satu-satu di Youtube, mulai dari band legend Giving My Best, One Way, Casting Crowns, sampai JPCC Worship yang lagi ngehitz banget, bahkan Hillsong yang kece badai. Saya suka sama lagu-lagu mereka.
Tapii kalo balik lagi ke peribadatan di GKJ,
jika kelak kami yang pemuda-remaja ini telah dewasa dan menjadi penerus gereja yang baru,
dapatkah kami bernyanyi Kidung Jemaat dengan nyaring seperti yang bapak-ibuk kami lakukan setiap kebaktian?
Apakah Kebaktian Siang (yang merupakan kebaktian berbahasa Jawa) tetap ada? Atau malah ditiadakan?
Atau jangan-jangan, GKJ akan perlahan-lahan berubah menjadi denominasi baru?

Iya, saya memang overthinking.
Tapi jika melihat kebaktian Jumat Agung, Sabtu Sepi, Pentakosta yang bisa dibilang sepi jemaat karena menggunakan pengantar bahasa Jawa
tidak perlukah saya untuk khawatir?
Ntahlah.
:)
Gak tau kesambet apa, tiba-tiba saya pengeen banget nulis tentang Sari. Pengen banget.
Kangen mungkin ya. Secara, dari TK sampai SMA bisa dikatakan kami gak pernah terpisahkan, satu kelas terus. Kemana-mana bareng terus. Sampai dikira kakak adik. Tapi sekarang, semenjak dia kuliah di Joga dan saya sok sibuk di Solo, kami jarang banget ketemu.
Kangen saya bermula saat saya iseng membuka file-file lama dan menemukan video cupu ini :
Iya, saya gendut banget di video itu -_-
Iya, kami salah ambil jalan. ternyata jalannya searah -_-
Iya, helm alai ijo itu emang udah saya punya dari SMA, iya emang buluk gitu..

Seusai melihat video tadi, saya sadar bahwa begitu banyak kenangan yang saya punya sama Sari.

Mulai dari kenangan yang sedih,
Saat saya nangis begitu tahu Sari kecelakaan di Pasar Kembang gegara mau telat masuk sekolah
Dan begitu saya menganggap Septian sebagai superhero sejati karena langsung menolong Sari, membawanya ke rumah sakit terdekat
Saat Sari dengan penuh emosi mengutuki seseorang, sebut saja D, yang telah membuat saya mewek seharian. Saat Sari mengatakan bahwa saya sama sekali tidak pantas menangisinya. Saat Sari berjanji bahwa dia akan membantu saya sekeras yang dia bisa agar saya tidak lagi bergantung pada D. Meminta tolong pada D.
Saat kami berdua tersenyum maklum satu sama lain dalam perjalanan ke acara wisuda SMA, setelah ibu kami saling bertanya tentang bagaimana hasil snmptn kami.

Kenangan jaman perjuangan,
Saat kami masih hidup di jaman susah, menunggu bus atmo yang gak jelas kapan datangnya, mengernyit sambil menutup hidung saat bus berhenti di bangjo dekat JackStar.
Saat Sari bersikeras agar kami naik Bus Surya A daripada Atmo karena tidak begitu ramai dan penuh sesak; meskipun bus Surya A hanya berbangku plastik, tidak seperti atmo yang bangkunya ada bantalnya, saya setuju untuk menemani sari kok :'
Saat Sari memandang pedih ke arah saya - menganggap saya pengkhianat - karena saya memilih naik Nusa C bersama Christian daripada naik atmo bersama Sari. Kalo naik Nusa C saya gak perlu jalan jauh, Sar :')
Saat saya dan Sari janjian berangkat Les Neutron bareng, dengan waktu yang sangat mepet, dan kejebak macet di Kota Barat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Saat motor saya gak sengaja mencipratkan air hujan berlumpur ke wajah Sari - yang sangat kebetulan tidak sedang memakai masker - sehingga wajahnya belepotan. Sari sama sekali tidak marah walaupun saya tertawa histeris di tengah bangjo. Di tengah tatapan banyak orang.
Saat kami memutuskan untuk keliling Jogja dengan berjalan kaki demi menghemat uang. Capek aku Sar. Mending jogging aja :')

Sari memang tampak cuek,
tapi sebenarnya, dia peduli, lebih dari yang saya kira.
Pernah Niko bercerita pada saya tentang kesaksian Sari di sekolahnya Niko:
'Vik. Tadi Sari kesaksian di ibadah sekolahku. Cerita tentang sahabatnya yang bertanggung jawab, nama sahabate Avik. Itu lak kamu to? Temen-temenku sampe pada tanya, Avie itu siapa sih. Aku jadi ikutan terkenal karena aku temenmu vik haha.'
Saya gak bakal tau tentang hal ini jika Niko tidak bercerita.
Sampai detik ini, Sari tidak membicarakan tentang itu.
Saya juga tidak mau membahasnya.
Mengetahui hal seperti itu saja sudah membuat saya senang bukan main.
Lebih dari cukup.
Membuat saya sadar bahwa Sari lebih peduli dari yang saya kira.

Duh, Sar. Aneh juga ini lama-lama.
Dulu apa-apa sama kamu.
Berangkat sekolah, sekolah, kabur ke kantin, nelat ke ruang agama, nelat dateng ibadah sekolah, ikut kepanitiaan PPK, ikut kepengurusan PPK, les Neutron bareng, pindah cabang Neutron bareng, bolos Neutron bareng, daftar sbmptn bareng, dan yang terakhir, ikut kepanitiaan retreat bareng
Sekarang?
Kamu di Jogja. Sibuk belajar jadi calon ahli gizi. Sibuk sama organisasi Fire House-mu yang keren itu. Gonta-ganti dp BBM tentang pelayananmu di berbagai tempat.
Kamu tambah keren sekarang Cao :)
Kapan kita beli mcFlurry lagi? Atau beli es sari kacang ijo seribu rupiah di depan Spensa. Beli bakso ojek Pak Ndut yang panaz banget gak bisa dimakan, sampe rumah baru bisa dimakan karna udah dingin. Atau beli leker seribu rupiah buatan Kakek-Nenek romantis di depan SD Kristen Manahan. Beli mi rebus di semut merah (kalo lagi punya banyak uang). Atau beli bakpao Mega Jaya yang dikukus, tidak digoreng. Atau beli tempe goreng Bu Ardi. Beli buku di Togamas. Beli buku bekas di Alkid. Beli jam bekas buat kado di Relasi. Atau beli bakso ojek di tempat retret kemaren. Kapan Sar?
Kapan
Kita
Bisa
Menghabiskan waktu
Buat hal-hal yang sama sekali gak penting
Seperti saat dulu?



saya beri kalian satu rahasia, ya.
Rahasia terdalam yang saya punya.
Rahasianya adalah:
saya tak pernah mau menjalin hubungan dengan sahabat sendiri.

Sebagai seorang perempuan dengan sikap kelaki-lakian, sangat wajar jika saya punya temen lelaki yang lebih banyak daripada perempuan. Banyak. Malah kadang lupa dia siapa, kenal dimana, kenal kapan. Yagitu, saya orangnya gitu, mudah lupa. Gak gagasan,

Gak bisa dipungkiri ya, kalo temenan antara dua manusia beda jenis itu pasti beda. Pasti ada yang beda. Berulangkali saya mengalaminya, dengan berbagai tipe manusia. Berulangkali pula saya mampu menghindarinya, mampu menjaga pertemanan itu tetap dibawah kontrol, tetap jadi yang saya mau: hanya teman, tidak lebih. Kalau tidak mau, yaudah, cari yang lain. Gakpapa kalo gakmau temenan sama saya lagi.
Selalu berjalan seperti itu
Lalu mereka pergi dengan sendirinya
Meski ada yang bertahan dengan posisi sebagai teman.
Saya merasa tenang. Terkendali dalam genggaman.
Tidak perlu takut sakit hati, merindu, kehilangan, cemburu, apalah itu.

Tapi kali ini saya jatuh. Saya gagal mempertahankan diri saya sendiri.
Saya kehilangan keseimbangan.
Saya jatuh, tenggelam
dalam angan tentang seorang lelaki yang sudah saya anggap sahabat. Sahabat dekat.

Seperti yang sudah saya bilang tadi, saya itu gak gagasan.
Saya gak sadar kalo saya telah jatuh cinta dengan lelaki itu
Sampai akhirnya saya ada di titik terendah. Break point. Lelah luar biasa.

Resah menanti kabar darinya
sementara otak saya terus berkata, "Kamu itu siapanya dia?"
Menatap bangku kosong di sebelah
berandai-andai bagaimana jika dia hadir, di tempat itu, menemani saya melewati jam kuliah yang terasa panjang, terasa lama
Memandang motor saya yang terparkir berantakan di parkiran, dimana butuh perjuangan dan waktu panjang untuk dapat mengeluarkannya
berharap dia ada, tersenyum sabar membantu saya. Sementara saya ngomel-ngomel gak karuan mengutuki parkiran yang ruwet tiada terkira

dan saya mulai merindukannya.
Sesuatu yang biasanya saya buang jauh-jauh terhadap teman lelaki lain.
Tapi kali ini, saya menderita.
Saya tenggelam.
Bukannya berusaha untuk bangkit, mengeringkan diri, bergegas pulang meninggalkan tempat itu,
Saya malah memilih menyelam. Jatuh semakin dalam.

Christian Yoga,
kamulah orangnya.
Kamu yang buat aku tenggelam coy, ci, mas, agen mlm, plagiator, womb. Apalah nama panggilanmu itu :'D
Tapi aku tidak menyesal telah tenggelam
Aku bahkan bertekad untuk tenggelam lebih dalam,
bersamamu.

Eh.
Jangankan tenggelam
Kamu bawa aku terbang ke Mars pun aku bakalan mau.
Asal bersamamu, Yoga. Sudah cukup untukku.
ingin kulihat dari matamu
bilakah kaupun merindukanku
terasa indah di hatiku
saat dirimu hadir untukku

ingin kudengar dari hatimu
sudikah kau tuk temani aku
begitu indah kurasakan
ada hadirmu, memang untukku
dan kini,

takkan ada (yang kan mengisi hatiku)
dirimulah (satu kan mengisi hatiku)
percayalah (ku katakan pada dirimu)
sayangku hanyalah untukmu
selamanya
slama-lamanya
hari ini esok dan nanti
kau tetap terindah di hatiku
bila kau izinkanku
tuk slalu bersamamu

inginku bisikkan desah hatiku
dapatkah kau dengar detak jantungku
kau bukakan mata hatiku
kau yakinkan diriku
akankah cinta ini yang kan satukanku denganmu
Satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. Kalo tiga? Hah mampus kau vik :'D 
source: www.space.com


Bawa aku ke Mars
Dimana hanya ada aku dan kamu
Sebagai manusia

Bawa aku ke mars
Mari bangun sebuah desa disana
Mari bangun keluarga kita disana

Mendapatkan makanan lewat budiaya aeroponik
Mendapatkan uang dengan menjadi bintang acara 'Mars Family' di National Geographic
Menjadi kepala suku dengan anggota alien-alien dari planet lain
Menjadi artis setiap kali pulang ke bumi
Dipuja karena kita yang berani
Ditangisi saat harus pergi ke mars lagi
Karna tak tau kapan akan kembali

Bawa aku ke mars
Sesungguhnya, alasan yang terbesar adalah
Aku ingin bersamamu.

Kemanapun kau bawa aku
Itulah mars
Mars Is Our Home.
Sukacita dengan penuh ucapan syukur didapatkan;
Ketika akhirnya apa yang dinanti
Apa yang didoakan
Apa yang diperjuangkan sampai air mata tak tertahankan
Saat berulangkali jatuh, bangun, sambil tetap percaya bahwa asa itu nyata; dan tidak mustahil
Akhirnya datang.

Dan ketika datang,
Yang ada hanya rasa damai
Serta penuh syukur
Tidak terlalu berlebihan, mengingat sepanjang apa rajutan asa itu telah terjalin

Sekali lagi,
Terimakasih Bapa.
Terimakasih Bapak.
Kini aku percaya benar bahwa Bapak adalah siapa yang Bapa hadirkan 
Untuk mengajariku bersabar
Bersyukur
Dan nrimo
Sekaligus merasa berhutang.
Kelak, seberapa banyakpun yang aku berikan padamu, pada ibuk
Takkan sanggup melunasi apapun.
Setinggi apapun penyembahanku, serajin apa aku bazar, sepenuh apa absensiku di kebaktian, takkan terbanding oleh berkat yang terus dicurahkan setiap detiknya
Sehebat apapun aku nanti, takkan menyaingi role modeku nomer satu di dunia, mba Ang.
Sumber inspirasi tentang darimana sebuah pribadi keren itu harus bersikap.

Tuhan,
Kini aku mengerti kenapa Mas Ndika selalu mendoakan tentang keluarga dengan sangat amat panjang saat persekutuan remaja
Kini aku mengerti kenapa Petrus selalu berdoa dengan suara bergetar tiap kali dia berucap, 'berkatilah kami Tuhan supaya kami bisa sukses dan membahagiakan kedua orang tua kami'
Kini aku mengerti kenapa Mas Agil sering update status 'nganter mba Uun ke A, ke B'
Kini aku mengerti kenapa mba Anis suka drama korea, lewat drama korea dia belajar untuk tidak menyia-nyiakan ibu.
Kini aku mengerti Tuhan, aku mengerti.
(jam 1 pagi, dan gak bisa tidur.)

Saya duduk bengong di laboratorium kultur jaringan. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi belum ada tanda-tanda untuk memperbolehkan kami pulang. Ade Indah sibuk mengobrol ria dengan Dhisti. Ika sedang asyik dengan hapenya, entah menghubungi siapa. Hape saya sudah terancam lowbat, dan rasanya sungguh tidak bijaksana untuk mengaktifkan paket data. Hape saya juga rame keleus, rame sama smsnya ibuk:
Pulang jam berapa?
Hati-hati begal. Doa.
Cari jalan rame dek.
Dan sebagainya. Saya males ngobrol hari itu. Cuma melamun sambil mantengin jam, berharap jarumnya berdetak lebih cepat. Sedang melamun ria, Mas Dwi si coass juga tiba-tiba berkata
‘Udah dek bentar lagi kelar. Setengah jam-an mungkin.’

Setengah jam. Baru kelar setengah jam lagi. Apa sih yang kami tunggu? Iya, kami nungguin botol-botol kultur yang sedang diautoclave. Saya capek duduk. Saya berdiri, mengundang tatapan penasaran dari para coass dan praktkan yang masih setia bertahan.
Saya berjalan pelan, menuju arah autoclave, berbelok ke kanan, lalu ndhlorosan dibawah meja praktikum. Lab kuljar memang punya sedikit sekali kursi, jadi yang tidak kebagian kursi harus berdiri, tapi saya memilih ndhlosor.

Memasang headphone, menyalakan musik keras-keras sampai suara-suara manusia di lab tidak terdengar.
Terbawa ke dunia saya sendiri.

Pas banget. Lagunya Banda Neira.
Saya jadi inget sama film Suck Seed, dimana pas si cowok lagi jatuh cinta, dia masang headphone dan jalan di tengah pasar sambil ndengerin lagu. Jadi dengan lagu di headphonenya itu dia ngarang-ngarang adegan sendiri, kek jalan bareng sama vokalis lagunya di pasar, suara cacahan pisau daging jadi backsound, nyanyi bareng mbok-mbok pasar, serulah pokoknya. Lucu banget. Saya tersenyum-senyum sendirian. Saya juga bisa bikin kek gitu.

Banda Neira-Esok Pasti Jumpa
Kau keluhkan awan hitam
Yang menggulung tiada sudutnya
(ada awan hitam besar bergulung-gulung diatas lab kuljar, trus semuanya jadi hitam-putih ketutup sama si awan)
Kau keluhkan dingin malam
Yang menusuk hingga ke tulang
(semua orang di lab kuljar membeku)

Hawa ini kau benci
(saya bangkit berdiri, melihat sekeliling yang beku dan hitam-putih)
Dan kau inginkan tuk segera pergi
(menuju meja praktikum)
Pergi angkat kaki
(ambil botol kultur)
Tiada raut riang, disana
(saya cemberut)
Pergi, segra
(ngebanting botol-botol kuljar)

u… u…. u… uu
u… u…. u… uu
(numpahin gula praktikum kemana-mana)

u… u…. u… uu
u… u…. u… uu
(numpahin agar-agar praktikum kemana-mana)

Kau keluhkan sunyi ini
Dan tak ada yang menemani
(personilnya Banda Neira yang cowok- maaf saya gatau siapa namanya- tiba-tiba muncul di pintu lab kuljar sambil bawa gitar)
Kau keluhkan risau hati
Yang tak kunjung juga berhenti
(mas banda neira menghampiri saya)

Rasa itu kau rindu
Dan kau inginkan tuk segera tiba
Dan kembali bermimpi
Hanyut dalam hangatnya pelukan cahaya mentari
(saya nyanyi, mas banda neira main gitar)

Dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu
Tuk mengingatnya saat dia tak ada
Tuk mengingatnya saat dia tak ada
Tuk mengingatnya saat dia tak ada
Esok, pasti jumpa
(kami berdua meninggalkan lab kuljar. Lab berantakan, kotor dengan gula dan agar, dan orang-orang di dalam lab masih membeku)

Alarm autoclave berbunyi, menyadarkan saya dari lamunan.
Banyak yang berbondong-bondong menuju autoclave untuk mematikannya.
Saya tetap diam di tempat,
Mencari lagu lain yang bisa saya nikmati dengan adegan-adegan imajiner.




Kukuh Kristiyadi.

Jujur, dari awal pertama kali saya masuk SMP, satu-satunya cowok yang menurut saya ganteng di kelas itu ya Kukuh. Tinggi menjulang, rambutnya kriting dipotong cepak, bulu mata yang lentik dan panjang, murah senyum, dan cool. Beda banget sama cowok-cowok lain yang tingginya masih sama kayak saya, terlalu murah senyum, dan sok cool. Bedalah pokoknya. Kukuh seakan dilahirkan untuk jadi cowok cool makzimal.
Betapa beruntung dan bahagianya saya waktu itu karena Kukuh berteman dekat dengan Andika alias si Upil. Berhubung saya juga deket banget sama Upil, jadilah saya punya banyak kesempatan untuk berinteraksi langsung sama Kukuh. Asyik!
Lama mengenal, lama berteman, dan lama bersahabat, kadar cool Kukuh hilang dengan sendirinya. Bahkan, sampai sekarang saya masih memanggilnya Eyang Uti karena sikapnya yang lemah lembut bahkan sama cewek berisik gak sabaran kek saya.
Tapi, Kukuh itu baik kok. Baikk banget.
Disaat cowok lain sibuk pamer skill nggitar mereka (iyee gue tau elu elu pada jago.), Kukuh dengan sabar dan penuh senyum serta penuh kasih mengajari saya pelan-pelan mainin satu lagu buat ujian Seni Musik (sayapun masih inget lagunya: Seharusnya Kita - Naff). Tidak menertawakan gitaran saya, tapi selalu memberi pujian yang rasa-rasanya sama sekali tidak pantas diberikan hahaha.
Disaat anak-anak lain menjauhi dan seakan tidak mengenali saya saat jam olahraga (yes, tiap jam olahraga saya selalu merasa sekarat), Kukuh dengan yakinnya percaya bahwa saya bisa main badminton. Padahal sudah berkali-kali saya jelaskan bahwa Cuma service aja peluang keberhasilannya 0,000001%. Dengan yakinnya ia jadikan saya pasangannya untuk melawan Putri dan Andika yang dikenal beringas dalam badminton wkwk.

Putri         : (service kok)
Andika   : (pasang tampang serem buat nakut-nakutin saya. Badannya diitemin biar makin mirip                           arang. Eh emang dari lahir udah kek gitu ding)
Kukuh      : (focus 100% terhadap service Putri)
Saya        : (cengoh, gemeteran megang raket. Grogi diliatin temen-temen lain yang bukannya pada                        badminton juga malah pada nonton artis drama korea dipaksa main badminton)

Kok menuju tim kece (Avie-Kukuh)
Saya       : (sigap berlari, menuju ke beberapa meter di belakang Kukuh. Membiarkan Kukuh berjuang                 sendirian menjalani ujian hidupnya. Maafin aku Kuh, aku emang gak pernah bisa bahagiain                 kamu, hikz)
Kukuh     : (syok melihat pengkhianatan terbesar abad ini yang dilakukan oleh partnernya sendiri)
Saya        : (berubah fungsi menjadi supporter sekaligus pelatih) “Ayo Kuh! Jangan liat aku! Tuh mau                   nyampe ke kita koknya! Fokus Kuh!”
Kukuh    : (menghela napas putus asa, bermain badminton sendirian menghadapi si duo pedang –                        Putri dan Andika)

Beberapa menit kemudian..
Saya       : (sudah lupa sama ketegangan duel badminton maut. Sibuk menyemangati Kukuh saat kami                 menang dan mencaci makinya habis-habisan jika tim kami kalah. Pura-pura gak denger                    hujatan temen-temen lain yang ngatain saya parasite, pengkhianat. Well. You know my name              but not my story, audience.)

Kok mengarah ke kami
Kukuh   : (berlari gesit ke belakang saya sambal cengar-cengir rese. Ooooh rupanya dia balas                             dendam.)
Saya      : (sibuk mencaci maki Kukuh, berteriak-teriak panic sendirian sementara Kukuh, Putri, dan                    Andika tertawa-tawa jahat menikmati penghakiman yang saya lalui)

*pok
Wow, saya bisa membalas servie..
*pok
Wow, saya bisa membalasnya lagi!
‘Duzzz!
Wow! Barusan saya smash itu, saya SMASH!!!!

Jam olahraga usai. Andika dan Putri saling mengacung-acungkan pisau, hendak saling membunuh karena tim mereka kalah. Saya balik badan dan tersenyum pada Kukuh. Saya berkaca-kaca. Kami berurai air mata. Lalu kami segera mendaftarkan diri ke All England untuk pasangan ganda campuran.
Gak, gak segitunya kok. Saya hiperbola-in aja hehe.

Realita:
Jam olahraga usai. Gak tau siapa yang menang atau kalah, tapi yang jelas saya berhasil smash mereka tepat saat jam olahraga berakhir. Dengan wajah memerah karena merasakan adrenaline dan senyum selebar-lebarnya karena saya terlalu bahagia bisa melakukan smash, kami berempat menuju kantin. Lalu dengan polosnya Kukuh meminjam seribu rupiah buat beli ale-ale karena uangnya ketinggalan di kelas. Yaelah Kuh, jangankan seribu. Sejuta aja boleh kok buat kamu, pelatih olahraga yang hebat wkwk.

Gak tau ya kenapa, tapi dari bertahun-tahun persahabatan saya sama Kukuh, Andika, dan Putri, duel badminton maut ini menjadi momen yang paling saya ingat dan paling manis untuk dikenang :’)


Oke, lanjut ke kebaikan Kukuh yang lain. Dia rela dan mau nemenin saya dan Putri nonton District 13 di Solo Grand Mall. Beda banget sama si Upil yang menolak ajakan nonton mentah-mentah karena memilih untuk bermain game online. Dih.
Karena si Kukuh juga, saya dan Putri mau ke GrandMall jalan kaki. Biasanya naik bus atmo dan bayar limaratus rupiah. Gakpapa, itung-itung olahraga. Gak papa, walaupun cuaca waktu itu super panas dan ramai karena pada mau Jumatan.
Beberapa lama berjalan, Kukuh membawa kami ke “jalan alternative” karena kasihan liat tampang saya dan Putri yang kek kuda nil dehidrasi. Yang kemudian terjadi adalah…
Kami tersesat.
Iya, Manahan-Kota Barat aja bisa ampe tersesat ya ckck
Kami tiba di gang-gang sepi
Saya soudzon sebenernya Kukuh mau nyulik kami berdua.
Tapi ternyata Kukuh juga panik
Kami tambah panik karena cuaca makin panas.
Kami terus berjalan, memuji Tuhan supaya dibukakan jalan
Kami sampai di Masjil Kalitan. Berarti sebentar lagi kami akan sampai di GrandMall.
PujiTuhan

Yah, gitu lah. Kukuh kan manusia juga, jadi wajar kalo salah dan sok tahu dalam mencari jalan wkwk.
Dah ah, met ulang tahun yaw Eyang Uti
Walau kita jarang sekali bertemu, tapi yakinlah kita satu geng sama Putri sama Andika (sama Adit juga boleh) sampai celama-lamanya.
BBMlah aku kapanpun sama seperti aku yang kadang usil BBM kamu Cuma buat ngomentarin status-status BBMmu.
Besok natal Master Ghe kamu jadi gitaris lagi, ya. From my deepest heart, you're really an awesome worshiper with your guitar.
Kuliah yang bener di Semarang.
Salam buat pacarmu ya. Kata Andika dan Adit pacarmu cemburuan WKWK.
Lho. Pacarmu cemburu sama Adith sama Andika?
Kemahoan kalian belum sembuh toh? Dih.

Gusti tansah mberkahi, Eyang Uti! J

kiri ke kanan: saya, kukuh, dan putri.
Lhoo andika kemana? Dia yang motoin lah. Hina banget mau ikutan foto juga WKWK
Hari ini adalah hari yang istimewa (baca istimewanya harus ala-ala Zakky di sinetron Emak Ijah Pengen Ke Mekah ya)
Gimana mau nggak istimewa, hari ini Mba Anis baptis dewasa. Akhirnyoooo

Well, sebenernya Mba Anis udah ikut kateksasi mulai pertengahan tahun 2013. Bareng sama saya, evie, mba puput, mas agil, sama W juga (betapa cepat waktu berputar ya, dan keadaan tak lagi sama).

Tapi sayang, saat seharusnya Mba Anis baptis bersama dengan kami di malam natal, ia urung dibaptis. Penyebabnya, biarlah orang-orang terdekat saja yang tahu. Saya sedih, dan kalo saya ngebayangin jadi mba Anis saya bakal lebih sedih lagi.

Tapii waktu sudah berlalu, banyak suka dan duka terlewati, mendapatkan, kehilangan, dan tadi pagi saya duduk di baris terdepan bersama teman-teman remaja, mensupport Mba Anis yang duduk tegang menghadapi baptis dan perjamuan kudus pertamanya.

Selamat ya Mba Anis, from my deepest heart.
'Bendahara abadi' komisi pemuda remaja yang sabar
Yang tiap awal tahun mau menampung saya sebagai parasit di rumahnya demi membuat laporan tahunan dan rencana anggaran tahunan yang super awesome
Yang jadi tempat mengadu kala hati tak lagi sanggup menanggung beban moral sendirian
Yang saling menguatkan saat kejenuhan melanda, saat merasa apa yang sudah diperjuangkan bersama-sama tak kunjung membawa perbaikan
Yang selalu di baris terdepan untuk mendukung, menenangkan, saat amarah ini meledak ke segala arah, bahkan ke arah mereka yang tak bersalah

Selamat yaa, sekali lagi selamat.
Ini baru awal Mba Anis, saya yakin masih banyak yang harus kita hadapi ke depan.
(Saya nulis ini sambil agak-agak mrebes. Maaf baper)

Selamat Sidi Mba Anis!


Saat sedang mengajar les, tanpa sadar saya bersenandung sebuah lagu. Adik saya diam lalu ikut menyenandungkan lagu yang sama. Saya tertegun.
'Lho, dek. Kamu tahu lagu ini juga?'
'Tau dong kak.'
'Kok bisa? Iya sih ini emang lagu anak-anak, tapi lagunya udah lama banget ini.'
'Iya kak, aku pernah denger di tv.'

Dan kini duduklah saya di depan komputer, mendengarkan kembali lagu itu. Lagu yang dulu saya putar diam-diam di kamar kakak saya saat dia sedang sekolah. Saya masih ingat betapa deg-degannya jantung ini saat berhasil memutar kasetnya Sherina di radio milik kakak saya. Saya masih ingat betapa senangnya saya karena hujan turun saat saya mendengarkan lagu itu, membuat lagu itu semakin hidup. Saya ingat menari, menyanyi sendirian di kamar kakak saya, membayangkan saya adalah Sherina. Remember moments ;) sekarang, mana pernah saya melakukan hal yang sama seperti dulu? Paling sekarang kalo hujan malah ngedengerin lagunya Adhitia Sofyan atau Kings Of Convenience biar makin cepet molor. 

Saya rindu masa kecil yang terasa sangat sederhana,
dimana hidup hanya diisi dengan tidur, bangun, mandi, diolesin caladyn dan minyak kayu putih oleh ibuk (olesan minyak kayu putihnya harus berbentuk salib. Kata ibuk hal itu dilakukan untuk mengusir roh jahat. Okedeh), sekolah, makan bekal mie goreng gaga super ualot karena dimasak dari pagi dan baru dimakan siangnya dan pop ice yang lagi ngehitz saat itu, ndhekem di rumah mantengin kartun di LaTivi, dan belajar, Belajar 5 menit di depan tv dan dengan gampangnya ketiduran. Trus digendong bapak, dipindahin ke atas kasur. 
Sekarang? Mau belajar kek, mau sarapan apa enggak kek, terserah. Dulu saya pengen cepet-cepet gede. Kini, saya rindu kembali ke masa lalu.
Manusia memang rumit.

titik-titik hujan
masih membasahi
kala kau menyapa, pelangiku
ingin ku berlari
jumpa bidadari
bawalah aku pergi bersamamu

bisikkan kisah yang lucu
nyanyikanlah lagu merdumu
merah kuning jingga dan biru
sentuhkan warnamu dalam gaunmu

ingin ku menari
hingga kau sembunyi
rindu pelangiku datang lagi

source: rainbowhousecolombia.org

Melayani, melayani, lebih sungguh
Melayani, melayani, lebih sungguh
Tuhan lebih dulu melayani kepadaku
Melayani, melayani, lebih sungguh

Lagu yang baru saja dinyanyikan saat persekutuan PMK tadi malam terus teriang di kepala saya, bahkan ketika saya sampai di spbu untuk mengisi bensin.
Saya : (majuin motor sampai pas di depan petugas)
Petugas : "Selamat malam" (tersenyum lebar, sangat lebar)
Saya : (tersenyum sopan) "Malam Mas. 15 ribu ya." (mengaduk-aduk isi tas mencari dompet, setelah dompetnya ketemu, si mas petugas masih tersenyum lebar memandang saya)
Petugas : "Iya 15 ribu, dimulai dari nol ya"
Saya : "Iya mas" (sibuk aduk-aduk isi tas lagi, sekarang nyari hape, barangkali ada pesan dari orang rumah yang resah anak bungsunya belum pulang) (menyadari keheningan yang tercipta) (memandang mas petugas)
Petugas : (masih tersenyum lebar, tangannya menujuk angka nol liter di alat pengisi bensin)
Saya : (bengong, mengangguk-angguk)
Petugas : (langsung mengisi bensin)
Saya : (memberikan uang pada mas petugas, lalu memasukan hape kembali ke tas)
Petugas : (menunggu saya selesai memasukkan hape, membantu menutup tangki bensin, menyerahkan kembalian sambil tersenyum lebar)
Saya : (tidak mampu menahan tawa) "Makasih mas"
Petugas : "Iya mbak, sama-sama" (masih tersenyum lebar)

Dalam sehari, seberapa sering kita ke spbu buat isi bensin?
Well, sebagai anak lajo, paling gak saya isi bensin 2 hari sekali.
Entah itu beli di bengkel dekat rumah dimana Bapaknya yang jual sangat amat ramah (dan selalu mengajukan pertanyaan yang sama, 'Berangkat sekolah dek? Oh udah kuliah.. Kuliah di mana?')
Entah di pom bensin yang mbak-mbaknya judes minta ampun (saya gak sengaja denger dia komplain ke temennya tentang pembeli bensin sebelum saya yang belagu karena merelakan kembalian yang "cuma" 2 ribu rupiah. Lah)
Entah di pom bensin yang mbak-mbaknya selalu membicarakan cuaca kayak orang bule ('Panas banget ya mbak' atau 'kemarin di sini hujan deres banget mbak, badai')
Sampai di spbu tadi - saya jarang banget ke spbu itu - dan mas-masnya ramah banget. Petugas SPBU paling murah senyum yang pernah saya temui mwehehe

Petugas SPBU itu melayani lho,
Tapi seringkali kita mengacuhkannya karena kita cuma berinteraksi semenit dua menit sama mereka.
Pertemuan saya dengan mas-mas SPBU murah senyum tadi seakan memberi contoh nyata, contoh hidup tentang firman yang saya dapet pas persekutuan PMK tadi, yakni untuk melayani lebih sungguh. Melayani dengan cara apapun, dimanapun Tuhan tempatkan kita.

Saya : (pulang ke rumah, dengan Lagu Melayani Lebih Sungguh yang makin terdengar kencang di kepala saya)

source: citography.wordpress.com