‘Dia akan mendampingi Maria seumur hidupnya
dalam menunaikan tugasnya. Ada banyak pekerjaan yang dapat dilakukan oleh
seorang insinyur di tempat yang terpencil ini, kata Maria tadi. Dan Guntur
percaya pada kata-katanya. Dia juga percaya, tidak semua cinta harus diakhiri
oleh sebuah perkawinan. Kadang-kadang tujuan yang lebih luhur lagi.’
Paragraf itu
merupakan penggalan dari Novel Merpati Tak Pernah Ingkar Janji karya Mira W.
Novel jadul memang, jadul banget. Secara novel itu difilmkan pada tahun 1985.
Tahun 1985 saja bapak ibuk saya belum menikah hahaha. Tapi dari novel jadul
itulah saya belajar banyak hal, sekaligus memiliki banyak pertanyaan, yang
ditujukan buat diri ini sendiri.
Hal yang paling
sulit dilakukan orang tua adalah membiarkan anaknya untuk bebas memilih. (Dedi
Corbuzier)
Di awal novel, diceritakan bahwa Maria adalah gadis
SMA yang sejak kecil sudah “diserahkan kepada Tuhan” oleh ayahnya, seorang Romo
yang mundur dari komitmen untuk hidup selibat. Maria sejak kecil sudah
dipersiapkan untuk menjadi biarawati, menggantikan ibunya yang mantan
biarawati. Ya, ayah Maria adalah Romo dan ibu Maria adalah calon biarawati.
Ayah Maria sering menjadi semacam dosen tamu bahasa latin di sekolah ibu Maria.
Suatu ketika ayah Maria mengundurkan diri menjadi Romo dan Ibu Maria tidak
melanjutkan sekolah biarawatinya. Ternyata mereka menikah, pindah ke Banyumas
dan melanjutkan hidup bersama. Namun, ibu Maria meninggal saat melahirkan
Maria. Romo merasa tragedi tersebut adalah hukuman untuknya sehingga ia bertekad
mempersembahkan Maria kepada Tuhan untuk menyilih dosanya.
‘Aku
telah mengambil milik Tuhan, Romo. Biarlah Tuhan mengambil milikku juga.’ (Handoyo,
Ayah Maria)
Meskipun Maria bersekolah di sekolah khusus
perempuan, dimana tidak ada satupun laki-laki di sekolah itu, namun tetap saja
Maria merasa kaget dengan dunia barunya. Selama ini Maria tidak pernah
bersekolah formal, ayah Maria hanya mendatangkan guru untuk mengajarinya di
rumah. Bahkan (maaf) Maria tidak pernah memakai bra, bahkan tidak tau bra itu apa.
Maria juga syok saat mendapat haidnya yang pertama (setting novelnya memang
tahun ’80 an sih, malah saya lebih kaget kenapa Maria lama banget dapet haidnya
wkwk. Pubertas memang terjadi lebih cepat sekarang). Teman-teman Maria juga
bisa dibilang bandel, meski memang masih tergolong bandel SMA yang wajar, sih.
Konflik memuncak semenjak Maria mengenal cinta dari
lelaki bernama Guntur (Tuh, lagi-lagi lakik. Emang semua tuh salahnya lakik).
Guntur yang tampan, berani, dan gigih untuk mendekati Maria membuat Maria luluh
bahkan –tanpa disadarinya- menaruh hati pada Guntur. Guntur bukan tokoh suci
keleus, awalnya Guntur mendekati Maria semata-mata untuk menang taruhan. Namun
semakin ia mengenal Maria, semakin ia sadar bahwa Maria berbeda, Maria unik.
Dan maria pantas untuk diperjuangkan. Duh mas Guntur….
‘Terus terang mula-mula aku memang tidak
serius dengan kamu. Aku tidak pernah serius dengan gadis manapun kok, Mar!
tanya temen-temenmu deh kalau nggak percaya! Tapi entah mengapa setelah kita
berada bersama-sama seharian itu, aku mulai tertarik kepadamu. Serius nih, Mar!
Jadi kalau biara penuh atau kalau kamu ditolak karena tidak memenuhi syarat
jadi biarawati atau ayahmu sakit-sakitan terus sehingga dia berubah pikiran,
lebih baik menjadikan kamu dokter daripada pertapa, tolong ingat aku, Mar! Aku
masih selalu menunggumu! Aku akan belajar baik-baik, merapikan rambutku,
menukar T-shirt dan jeans kumalku dengan kemeja putih dan dasi supaya ayahmu
tidak malu punya menantu seperti aku. Benar nih, Mar! Aku janji! Kapan kita
ketemu lagi, Maria?’ (surat cinta Guntur untuk Maria. Jaman dulu udah
ngomong jadi menantu-menantu ye padahal masih SMA hahaha)
Dapatkah kita
mencintai tanpa memiliki?
Saya kasih tau ya, endingnya seperti apa. Toh di
blog-blog lain juga udah dikasihtau kan hahaha.
Jadi, si Maria ini kabur dari rumah. Ayahnya memang
menakutkan saat benar-benar marah, bahkan sampai memukul Maria. Tinggalah Maria
di rumah Elita, sambil menunggu waktu yang tepat (entah kapan) untuk pulang.
Tapi ayah Maria terlanjur marah besar, dan menganggap bahwa Guntur-lah yang
membawa lari Maria. Kenapa ayah Maria bisa tau Guntur? Karena ayah Maria
menemukan album foto berisi foto-foto Maria yang sedang berdansa bersama Guntur.
Singkat cerita, ayah Maria melabrak Guntur di rumahnya, marah-marah mencari
Maria. Teman-teman Guntur membela si Guntur dong, meski (menurut saya) dengan
cara yang sangat tidak sopan untuk diperlihatkan di depan orang yang lebih tua.
Gatot, teman Guntur, menodongkan pistol ke ayah Maria
sebagai tindakan intimidasi. Ayah Maria bukannya mundur malah semakin maju,
menantang Gatot untuk segera menarik pelatuknya. Eh, ditarik beneran sama
Gatot. Guntur sigap melindungi ayah Maria, namun dia terkena tembakan pas di
hatinya (cieh. Loh wkwkwk). Gatot dan ayah Maria ditangkap polisi, Guntur
berdarah-darah dioperasi di rumah sakit. Maria nih, sekalinya bikin masalah
langsung bikin satu orang masuk rumah sakit..
Harapan hidup Guntur sangat kecil karena hati tidak
bisa diangkat (ada nih, yang takut banget minum obat habis baca ‘disfungsi
hati’ di kontra indikasinya. Hayo mas.. Hati yang sakit tidak bisa diangkat
lho. Makanya kamu jangan menyakiti hatiku. Hati kita ding). Maria yang merasa
bersalah langsung lari keluar dari rumah sakit lalu mencegat taksi (sorry to
say, tapi ini memang drama banget) meninggalkan teman-teman yang memanggilnya
untuk kembali, meninggalkan Guntur yang dalam kondisi setengah mati setengah
hidup di rumah sakit, meninggalkan ayahnya yang harus mendekam di penjara
beberapa bulan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Tetapi
keputusan terakhir di tangan Tuhan. Dengan penciptanyalah manusia telah
berjanji kapan dia harus kembali.
Lalu kemana Maria pergi? Dia kan tidak punya uang
sebanyak Paman Gober untuk mengelilingi dunia naik taksi.
Bentar dulu to ah, sabar.
Lalu dia
melihat patung itu. Patung yang menjulang tinggi di hadapannya. Patung yang
mirip dengan gambar Yesus di kamarnya. Di Kaki-Nya-lah dia tersungkur. Dan
tiba-tiba saja ada secercah kedamaian menjalari hati Maria.
“Kupersembahkan
seluruh hidupku sebagai ganti hidupnya, Tuhan!” bisik Maria, terharu.
“Kuserahkan diriku seutuhnya ke dalam tangan-Mu!”
Yow. Begitulah endingnya. Intinya Guntur sembuh,
bertobat, sukses jadi insinyur. Maria, bagaikan merpati yang tidak pernah ingkar
janji, tidak pernah mengingkari janjinya kepada ayah dan Tuhan untuk menjadi
biarawati. Ayah Maria melakukan pelayanan di pedalaman Papua. PujiTuhan mereka
dapat bertemu setelah 17 tahun berpisah. Meskipun mereka bertemu pada kondisi
yang amat sangat mengharukan sekaligus menyayat hati. Jujur saya gak sampe hati
buat menulis pertemuan mereka disini. Saya tidak terlalu tegar untuk
melakukannya, maaf L
Saya ulangi lagi,
Dapatkah kita
mencintai tanpa memiliki?
Ketika Guntur
diantarkan meninjau keadaan rumah sakit itu, dan melihat apa artinya seorang
Maria bagi pasien-pasien disini, tiba-tiba saja dia sadar, Maria terlalu mahal
jika diciptakan hanya untuk melayaninya seorang diri.
Saya belajar banyak hal, banyak sekali, dari novel
ini. Novel yang awalnya saya baca sambil lalu untuk mengisi waktu luang malah
membuat perasaan saya jungkir balik pagi-pagi. Membuat saya bersyukur karena
bisa mencintai bapaknya Bona tanpa harus merasa berdosa J
Merpati yang
terbang lepas itu kini telah kembali ke sarang. Merpati memang tak pernah
ingkar janji. Menjelang petang, dia pulang memenuhi janjinya.
Nb: semua
kalimat yang tercetak tebal merupakan penggalan dari novel tersebut. Dan
kata-kata bercetak tebal itulah yang sukses bikin saya nangis pagi-pagi.

Hhmmmm.. ya :)
BalasHapusilu :)
Hapus