(jam 1 pagi, dan gak bisa tidur.)
Saya duduk bengong di laboratorium
kultur jaringan. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi belum ada tanda-tanda
untuk memperbolehkan kami pulang. Ade Indah sibuk mengobrol ria dengan Dhisti.
Ika sedang asyik dengan hapenya, entah menghubungi siapa. Hape saya sudah
terancam lowbat, dan rasanya sungguh tidak bijaksana untuk mengaktifkan paket
data. Hape saya juga rame keleus, rame sama smsnya ibuk:
Pulang jam berapa?
Hati-hati begal. Doa.
Cari jalan rame dek.
Dan sebagainya. Saya males ngobrol
hari itu. Cuma melamun sambil mantengin jam, berharap jarumnya berdetak lebih cepat. Sedang
melamun ria, Mas Dwi si coass juga tiba-tiba berkata
‘Udah dek bentar lagi kelar. Setengah
jam-an mungkin.’
Setengah jam. Baru kelar setengah
jam lagi. Apa sih yang kami tunggu? Iya, kami nungguin botol-botol kultur yang
sedang diautoclave. Saya capek duduk. Saya berdiri, mengundang tatapan
penasaran dari para coass dan praktkan yang masih setia bertahan.
Saya berjalan pelan, menuju arah autoclave,
berbelok ke kanan, lalu ndhlorosan dibawah
meja praktikum. Lab kuljar memang punya sedikit sekali kursi, jadi yang tidak
kebagian kursi harus berdiri, tapi saya memilih ndhlosor.
Memasang headphone, menyalakan musik keras-keras sampai suara-suara manusia di lab tidak terdengar.
Terbawa ke dunia saya sendiri.
Pas banget. Lagunya Banda Neira.
Saya jadi inget sama film Suck
Seed, dimana pas si cowok lagi jatuh cinta, dia masang headphone dan jalan di
tengah pasar sambil ndengerin lagu. Jadi dengan lagu di headphonenya itu dia
ngarang-ngarang adegan sendiri, kek jalan bareng sama vokalis lagunya di pasar,
suara cacahan pisau daging jadi backsound, nyanyi bareng mbok-mbok pasar, serulah pokoknya. Lucu banget. Saya tersenyum-senyum sendirian. Saya
juga bisa bikin kek gitu.
Banda Neira-Esok Pasti Jumpa
Kau keluhkan awan hitam
Yang menggulung tiada sudutnya
(ada awan hitam besar
bergulung-gulung diatas lab kuljar, trus semuanya jadi hitam-putih ketutup sama
si awan)
Kau keluhkan dingin malam
Yang menusuk hingga ke tulang
(semua orang di lab kuljar membeku)
Hawa ini kau benci
(saya bangkit berdiri, melihat
sekeliling yang beku dan hitam-putih)
Dan kau inginkan tuk segera pergi
(menuju meja praktikum)
Pergi angkat kaki
(ambil botol kultur)
Tiada raut riang, disana
(saya cemberut)
Pergi, segra
(ngebanting botol-botol kuljar)
u… u…. u… uu
u… u…. u… uu
(numpahin gula praktikum
kemana-mana)
u… u…. u… uu
u… u…. u… uu
(numpahin agar-agar praktikum
kemana-mana)
Kau keluhkan sunyi ini
Dan tak ada yang menemani
(personilnya Banda Neira yang
cowok- maaf saya gatau siapa namanya- tiba-tiba muncul di pintu lab kuljar
sambil bawa gitar)
Kau keluhkan risau hati
Yang tak kunjung juga berhenti
(mas banda neira menghampiri saya)
Rasa itu kau rindu
Dan kau inginkan tuk segera tiba
Dan kembali bermimpi
Hanyut dalam hangatnya pelukan
cahaya mentari
(saya nyanyi, mas banda neira main gitar)
Dan ingatlah pesan sang surya pada
manusia malam itu
Tuk mengingatnya saat dia tak ada
Tuk mengingatnya saat dia tak ada
Tuk mengingatnya saat dia tak ada
Esok, pasti jumpa
(kami berdua meninggalkan lab
kuljar. Lab berantakan, kotor dengan gula dan agar, dan orang-orang di dalam lab masih membeku)
Alarm autoclave berbunyi,
menyadarkan saya dari lamunan.
Banyak yang berbondong-bondong
menuju autoclave untuk mematikannya.
Saya tetap diam di tempat,
Mencari lagu lain yang bisa saya
nikmati dengan adegan-adegan imajiner.
0 komentar: