Kangen mungkin ya. Secara, dari TK sampai SMA bisa dikatakan kami gak pernah terpisahkan, satu kelas terus. Kemana-mana bareng terus. Sampai dikira kakak adik. Tapi sekarang, semenjak dia kuliah di Joga dan saya sok sibuk di Solo, kami jarang banget ketemu.
Kangen saya bermula saat saya iseng membuka file-file lama dan menemukan video cupu ini :
Iya, kami salah ambil jalan. ternyata jalannya searah -_-
Iya, helm alai ijo itu emang udah saya punya dari SMA, iya emang buluk gitu..
Seusai melihat video tadi, saya sadar bahwa begitu banyak kenangan yang saya punya sama Sari.
Mulai dari kenangan yang sedih,
Saat saya nangis begitu tahu Sari kecelakaan di Pasar Kembang gegara mau telat masuk sekolah
Dan begitu saya menganggap Septian sebagai superhero sejati karena langsung menolong Sari, membawanya ke rumah sakit terdekat
Saat Sari dengan penuh emosi mengutuki seseorang, sebut saja D, yang telah membuat saya mewek seharian. Saat Sari mengatakan bahwa saya sama sekali tidak pantas menangisinya. Saat Sari berjanji bahwa dia akan membantu saya sekeras yang dia bisa agar saya tidak lagi bergantung pada D. Meminta tolong pada D.
Saat kami berdua tersenyum maklum satu sama lain dalam perjalanan ke acara wisuda SMA, setelah ibu kami saling bertanya tentang bagaimana hasil snmptn kami.
Kenangan jaman perjuangan,
Saat kami masih hidup di jaman susah, menunggu bus atmo yang gak jelas kapan datangnya, mengernyit sambil menutup hidung saat bus berhenti di bangjo dekat JackStar.
Saat Sari bersikeras agar kami naik Bus Surya A daripada Atmo karena tidak begitu ramai dan penuh sesak; meskipun bus Surya A hanya berbangku plastik, tidak seperti atmo yang bangkunya ada bantalnya, saya setuju untuk menemani sari kok :'
Saat Sari memandang pedih ke arah saya - menganggap saya pengkhianat - karena saya memilih naik Nusa C bersama Christian daripada naik atmo bersama Sari. Kalo naik Nusa C saya gak perlu jalan jauh, Sar :')
Saat saya dan Sari janjian berangkat Les Neutron bareng, dengan waktu yang sangat mepet, dan kejebak macet di Kota Barat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Saat motor saya gak sengaja mencipratkan air hujan berlumpur ke wajah Sari - yang sangat kebetulan tidak sedang memakai masker - sehingga wajahnya belepotan. Sari sama sekali tidak marah walaupun saya tertawa histeris di tengah bangjo. Di tengah tatapan banyak orang.
Saat kami memutuskan untuk keliling Jogja dengan berjalan kaki demi menghemat uang. Capek aku Sar. Mending jogging aja :')
Sari memang tampak cuek,
tapi sebenarnya, dia peduli, lebih dari yang saya kira.
Pernah Niko bercerita pada saya tentang kesaksian Sari di sekolahnya Niko:
'Vik. Tadi Sari kesaksian di ibadah sekolahku. Cerita tentang sahabatnya yang bertanggung jawab, nama sahabate Avik. Itu lak kamu to? Temen-temenku sampe pada tanya, Avie itu siapa sih. Aku jadi ikutan terkenal karena aku temenmu vik haha.'
Saya gak bakal tau tentang hal ini jika Niko tidak bercerita.
Sampai detik ini, Sari tidak membicarakan tentang itu.
Saya juga tidak mau membahasnya.
Mengetahui hal seperti itu saja sudah membuat saya senang bukan main.
Lebih dari cukup.
Membuat saya sadar bahwa Sari lebih peduli dari yang saya kira.
Duh, Sar. Aneh juga ini lama-lama.
Dulu apa-apa sama kamu.
Berangkat sekolah, sekolah, kabur ke kantin, nelat ke ruang agama, nelat dateng ibadah sekolah, ikut kepanitiaan PPK, ikut kepengurusan PPK, les Neutron bareng, pindah cabang Neutron bareng, bolos Neutron bareng, daftar sbmptn bareng, dan yang terakhir, ikut kepanitiaan retreat bareng
Sekarang?
Kamu di Jogja. Sibuk belajar jadi calon ahli gizi. Sibuk sama organisasi Fire House-mu yang keren itu. Gonta-ganti dp BBM tentang pelayananmu di berbagai tempat.
Kamu tambah keren sekarang Cao :)
Kapan kita beli mcFlurry lagi? Atau beli es sari kacang ijo seribu rupiah di depan Spensa. Beli bakso ojek Pak Ndut yang panaz banget gak bisa dimakan, sampe rumah baru bisa dimakan karna udah dingin. Atau beli leker seribu rupiah buatan Kakek-Nenek romantis di depan SD Kristen Manahan. Beli mi rebus di semut merah (kalo lagi punya banyak uang). Atau beli bakpao Mega Jaya yang dikukus, tidak digoreng. Atau beli tempe goreng Bu Ardi. Beli buku di Togamas. Beli buku bekas di Alkid. Beli jam bekas buat kado di Relasi. Atau beli bakso ojek di tempat retret kemaren. Kapan Sar?
Kapan
Kita
Bisa
Menghabiskan waktu
Buat hal-hal yang sama sekali gak penting
Seperti saat dulu?

0 komentar: