Sebagai Anak GKJ, Kita Seharusnya Malu

*tulisan ini dibuat tanpa maksud untuk menyinggung tentang sebuah golongan sedikitpun

Perkenalkan, saya Avie, si anak GKJ.
Bagi yang belum tahu apa itu GKJ, GKJ adalah singkatan dari Gereja Kristen Jawa. Tuh, ada kata "Jawa"nya. Cukup memperjelas tentang siapa orang yang beribadah disana, kan?

Saya baptis anak di GKJ
ikut sekolah minggu di GKJ
ngajar sekolah minggu di GKJ
ikut remaja di GKJ
baptis dewasa di GKJ
ikut pemuda di GKJ
yang belum cuma nikah di GKJ.
Hishh. Masih jauh itu mah. Ini sama sekali bukan kode ya.

Lambat laun saya mulai terusik oleh tata cara ibadah yang dilakukan oleh pemuda remaja di gereja saya.
Bisa dibilang, komisi pemuda remaja di gereja kami sangat dibebaskan oleh jemaat, majelis, dan pendeta untuk berkreativitas setinggi apapun. Mulai dari kreativitas acara ibadah sampe usaha dana.
Justru dari kebebasan yang terlalu bebas itulah, saya mulai khawatir dengan nasib kami kelak.

Coba bayangin deh.
Dari masih remaja kami sudah dilepas untuk beribadah senyaman kami. Jadilah, setiap PA (Pendalaman Alkitab), kami selalu pake lagu rohani populer
Lagu Kidung Jemaat? dih gak pernah.
Lagu Kidung Pasamuwan Kristen? Duhh apalagi.
Jangankan PA, untuk kebaktian yang lebih formalpun kami tetap memakai lagu rohani populer. Lagu Kidung Jemaat sangat amat jarang dinyanyikan. Kalau menyanyikan lagu Kidung Jemaatpun, selalu lagu-lagu yang sudah akrab di telinga saja yang dipilih. Giliran menyanyikan Kidung Jemaat yang sebenarnya umum dipakai tapi jarang terdengar, kami malah bengong menatap layar LCD tanpa berkedip.

Saya bukannya tidak menyukai lagu rohani popular ya.
Saya suka banget. Saya lihat satu-satu di Youtube, mulai dari band legend Giving My Best, One Way, Casting Crowns, sampai JPCC Worship yang lagi ngehitz banget, bahkan Hillsong yang kece badai. Saya suka sama lagu-lagu mereka.
Tapii kalo balik lagi ke peribadatan di GKJ,
jika kelak kami yang pemuda-remaja ini telah dewasa dan menjadi penerus gereja yang baru,
dapatkah kami bernyanyi Kidung Jemaat dengan nyaring seperti yang bapak-ibuk kami lakukan setiap kebaktian?
Apakah Kebaktian Siang (yang merupakan kebaktian berbahasa Jawa) tetap ada? Atau malah ditiadakan?
Atau jangan-jangan, GKJ akan perlahan-lahan berubah menjadi denominasi baru?

Iya, saya memang overthinking.
Tapi jika melihat kebaktian Jumat Agung, Sabtu Sepi, Pentakosta yang bisa dibilang sepi jemaat karena menggunakan pengantar bahasa Jawa
tidak perlukah saya untuk khawatir?
Ntahlah.
:)

0 komentar: