Rabu keempat.
genggaman kita semakin erat
sebentar saja tak bertemu terasa berat.

Rabu keempat.
makin banyak air mata yang kuratap
menyadari bahwa kamulah yang terhebat.

Rabu keempat.
kuharap kita semakin bertahan
meski kadang aku sama sekali tidak pantas untuk kamu pertahankan.

Rabu keempat.
tetaplah setiap bulan memiliki rabu keempatnya.
tetaplah kita berlari bersama
tetaplah disini
tetaplah bersamaku
meski kadang aku membingungkan
meski kadang aku meresahkan

selamat Rabu keempat, sayang.
*tulisan ini dibuat tanpa maksud untuk menyinggung tentang sebuah golongan sedikitpun

Perkenalkan, saya Avie, si anak GKJ.
Bagi yang belum tahu apa itu GKJ, GKJ adalah singkatan dari Gereja Kristen Jawa. Tuh, ada kata "Jawa"nya. Cukup memperjelas tentang siapa orang yang beribadah disana, kan?

Saya baptis anak di GKJ
ikut sekolah minggu di GKJ
ngajar sekolah minggu di GKJ
ikut remaja di GKJ
baptis dewasa di GKJ
ikut pemuda di GKJ
yang belum cuma nikah di GKJ.
Hishh. Masih jauh itu mah. Ini sama sekali bukan kode ya.

Lambat laun saya mulai terusik oleh tata cara ibadah yang dilakukan oleh pemuda remaja di gereja saya.
Bisa dibilang, komisi pemuda remaja di gereja kami sangat dibebaskan oleh jemaat, majelis, dan pendeta untuk berkreativitas setinggi apapun. Mulai dari kreativitas acara ibadah sampe usaha dana.
Justru dari kebebasan yang terlalu bebas itulah, saya mulai khawatir dengan nasib kami kelak.

Coba bayangin deh.
Dari masih remaja kami sudah dilepas untuk beribadah senyaman kami. Jadilah, setiap PA (Pendalaman Alkitab), kami selalu pake lagu rohani populer
Lagu Kidung Jemaat? dih gak pernah.
Lagu Kidung Pasamuwan Kristen? Duhh apalagi.
Jangankan PA, untuk kebaktian yang lebih formalpun kami tetap memakai lagu rohani populer. Lagu Kidung Jemaat sangat amat jarang dinyanyikan. Kalau menyanyikan lagu Kidung Jemaatpun, selalu lagu-lagu yang sudah akrab di telinga saja yang dipilih. Giliran menyanyikan Kidung Jemaat yang sebenarnya umum dipakai tapi jarang terdengar, kami malah bengong menatap layar LCD tanpa berkedip.

Saya bukannya tidak menyukai lagu rohani popular ya.
Saya suka banget. Saya lihat satu-satu di Youtube, mulai dari band legend Giving My Best, One Way, Casting Crowns, sampai JPCC Worship yang lagi ngehitz banget, bahkan Hillsong yang kece badai. Saya suka sama lagu-lagu mereka.
Tapii kalo balik lagi ke peribadatan di GKJ,
jika kelak kami yang pemuda-remaja ini telah dewasa dan menjadi penerus gereja yang baru,
dapatkah kami bernyanyi Kidung Jemaat dengan nyaring seperti yang bapak-ibuk kami lakukan setiap kebaktian?
Apakah Kebaktian Siang (yang merupakan kebaktian berbahasa Jawa) tetap ada? Atau malah ditiadakan?
Atau jangan-jangan, GKJ akan perlahan-lahan berubah menjadi denominasi baru?

Iya, saya memang overthinking.
Tapi jika melihat kebaktian Jumat Agung, Sabtu Sepi, Pentakosta yang bisa dibilang sepi jemaat karena menggunakan pengantar bahasa Jawa
tidak perlukah saya untuk khawatir?
Ntahlah.
:)
Gak tau kesambet apa, tiba-tiba saya pengeen banget nulis tentang Sari. Pengen banget.
Kangen mungkin ya. Secara, dari TK sampai SMA bisa dikatakan kami gak pernah terpisahkan, satu kelas terus. Kemana-mana bareng terus. Sampai dikira kakak adik. Tapi sekarang, semenjak dia kuliah di Joga dan saya sok sibuk di Solo, kami jarang banget ketemu.
Kangen saya bermula saat saya iseng membuka file-file lama dan menemukan video cupu ini :
Iya, saya gendut banget di video itu -_-
Iya, kami salah ambil jalan. ternyata jalannya searah -_-
Iya, helm alai ijo itu emang udah saya punya dari SMA, iya emang buluk gitu..

Seusai melihat video tadi, saya sadar bahwa begitu banyak kenangan yang saya punya sama Sari.

Mulai dari kenangan yang sedih,
Saat saya nangis begitu tahu Sari kecelakaan di Pasar Kembang gegara mau telat masuk sekolah
Dan begitu saya menganggap Septian sebagai superhero sejati karena langsung menolong Sari, membawanya ke rumah sakit terdekat
Saat Sari dengan penuh emosi mengutuki seseorang, sebut saja D, yang telah membuat saya mewek seharian. Saat Sari mengatakan bahwa saya sama sekali tidak pantas menangisinya. Saat Sari berjanji bahwa dia akan membantu saya sekeras yang dia bisa agar saya tidak lagi bergantung pada D. Meminta tolong pada D.
Saat kami berdua tersenyum maklum satu sama lain dalam perjalanan ke acara wisuda SMA, setelah ibu kami saling bertanya tentang bagaimana hasil snmptn kami.

Kenangan jaman perjuangan,
Saat kami masih hidup di jaman susah, menunggu bus atmo yang gak jelas kapan datangnya, mengernyit sambil menutup hidung saat bus berhenti di bangjo dekat JackStar.
Saat Sari bersikeras agar kami naik Bus Surya A daripada Atmo karena tidak begitu ramai dan penuh sesak; meskipun bus Surya A hanya berbangku plastik, tidak seperti atmo yang bangkunya ada bantalnya, saya setuju untuk menemani sari kok :'
Saat Sari memandang pedih ke arah saya - menganggap saya pengkhianat - karena saya memilih naik Nusa C bersama Christian daripada naik atmo bersama Sari. Kalo naik Nusa C saya gak perlu jalan jauh, Sar :')
Saat saya dan Sari janjian berangkat Les Neutron bareng, dengan waktu yang sangat mepet, dan kejebak macet di Kota Barat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Saat motor saya gak sengaja mencipratkan air hujan berlumpur ke wajah Sari - yang sangat kebetulan tidak sedang memakai masker - sehingga wajahnya belepotan. Sari sama sekali tidak marah walaupun saya tertawa histeris di tengah bangjo. Di tengah tatapan banyak orang.
Saat kami memutuskan untuk keliling Jogja dengan berjalan kaki demi menghemat uang. Capek aku Sar. Mending jogging aja :')

Sari memang tampak cuek,
tapi sebenarnya, dia peduli, lebih dari yang saya kira.
Pernah Niko bercerita pada saya tentang kesaksian Sari di sekolahnya Niko:
'Vik. Tadi Sari kesaksian di ibadah sekolahku. Cerita tentang sahabatnya yang bertanggung jawab, nama sahabate Avik. Itu lak kamu to? Temen-temenku sampe pada tanya, Avie itu siapa sih. Aku jadi ikutan terkenal karena aku temenmu vik haha.'
Saya gak bakal tau tentang hal ini jika Niko tidak bercerita.
Sampai detik ini, Sari tidak membicarakan tentang itu.
Saya juga tidak mau membahasnya.
Mengetahui hal seperti itu saja sudah membuat saya senang bukan main.
Lebih dari cukup.
Membuat saya sadar bahwa Sari lebih peduli dari yang saya kira.

Duh, Sar. Aneh juga ini lama-lama.
Dulu apa-apa sama kamu.
Berangkat sekolah, sekolah, kabur ke kantin, nelat ke ruang agama, nelat dateng ibadah sekolah, ikut kepanitiaan PPK, ikut kepengurusan PPK, les Neutron bareng, pindah cabang Neutron bareng, bolos Neutron bareng, daftar sbmptn bareng, dan yang terakhir, ikut kepanitiaan retreat bareng
Sekarang?
Kamu di Jogja. Sibuk belajar jadi calon ahli gizi. Sibuk sama organisasi Fire House-mu yang keren itu. Gonta-ganti dp BBM tentang pelayananmu di berbagai tempat.
Kamu tambah keren sekarang Cao :)
Kapan kita beli mcFlurry lagi? Atau beli es sari kacang ijo seribu rupiah di depan Spensa. Beli bakso ojek Pak Ndut yang panaz banget gak bisa dimakan, sampe rumah baru bisa dimakan karna udah dingin. Atau beli leker seribu rupiah buatan Kakek-Nenek romantis di depan SD Kristen Manahan. Beli mi rebus di semut merah (kalo lagi punya banyak uang). Atau beli bakpao Mega Jaya yang dikukus, tidak digoreng. Atau beli tempe goreng Bu Ardi. Beli buku di Togamas. Beli buku bekas di Alkid. Beli jam bekas buat kado di Relasi. Atau beli bakso ojek di tempat retret kemaren. Kapan Sar?
Kapan
Kita
Bisa
Menghabiskan waktu
Buat hal-hal yang sama sekali gak penting
Seperti saat dulu?



saya beri kalian satu rahasia, ya.
Rahasia terdalam yang saya punya.
Rahasianya adalah:
saya tak pernah mau menjalin hubungan dengan sahabat sendiri.

Sebagai seorang perempuan dengan sikap kelaki-lakian, sangat wajar jika saya punya temen lelaki yang lebih banyak daripada perempuan. Banyak. Malah kadang lupa dia siapa, kenal dimana, kenal kapan. Yagitu, saya orangnya gitu, mudah lupa. Gak gagasan,

Gak bisa dipungkiri ya, kalo temenan antara dua manusia beda jenis itu pasti beda. Pasti ada yang beda. Berulangkali saya mengalaminya, dengan berbagai tipe manusia. Berulangkali pula saya mampu menghindarinya, mampu menjaga pertemanan itu tetap dibawah kontrol, tetap jadi yang saya mau: hanya teman, tidak lebih. Kalau tidak mau, yaudah, cari yang lain. Gakpapa kalo gakmau temenan sama saya lagi.
Selalu berjalan seperti itu
Lalu mereka pergi dengan sendirinya
Meski ada yang bertahan dengan posisi sebagai teman.
Saya merasa tenang. Terkendali dalam genggaman.
Tidak perlu takut sakit hati, merindu, kehilangan, cemburu, apalah itu.

Tapi kali ini saya jatuh. Saya gagal mempertahankan diri saya sendiri.
Saya kehilangan keseimbangan.
Saya jatuh, tenggelam
dalam angan tentang seorang lelaki yang sudah saya anggap sahabat. Sahabat dekat.

Seperti yang sudah saya bilang tadi, saya itu gak gagasan.
Saya gak sadar kalo saya telah jatuh cinta dengan lelaki itu
Sampai akhirnya saya ada di titik terendah. Break point. Lelah luar biasa.

Resah menanti kabar darinya
sementara otak saya terus berkata, "Kamu itu siapanya dia?"
Menatap bangku kosong di sebelah
berandai-andai bagaimana jika dia hadir, di tempat itu, menemani saya melewati jam kuliah yang terasa panjang, terasa lama
Memandang motor saya yang terparkir berantakan di parkiran, dimana butuh perjuangan dan waktu panjang untuk dapat mengeluarkannya
berharap dia ada, tersenyum sabar membantu saya. Sementara saya ngomel-ngomel gak karuan mengutuki parkiran yang ruwet tiada terkira

dan saya mulai merindukannya.
Sesuatu yang biasanya saya buang jauh-jauh terhadap teman lelaki lain.
Tapi kali ini, saya menderita.
Saya tenggelam.
Bukannya berusaha untuk bangkit, mengeringkan diri, bergegas pulang meninggalkan tempat itu,
Saya malah memilih menyelam. Jatuh semakin dalam.

Christian Yoga,
kamulah orangnya.
Kamu yang buat aku tenggelam coy, ci, mas, agen mlm, plagiator, womb. Apalah nama panggilanmu itu :'D
Tapi aku tidak menyesal telah tenggelam
Aku bahkan bertekad untuk tenggelam lebih dalam,
bersamamu.

Eh.
Jangankan tenggelam
Kamu bawa aku terbang ke Mars pun aku bakalan mau.
Asal bersamamu, Yoga. Sudah cukup untukku.
ingin kulihat dari matamu
bilakah kaupun merindukanku
terasa indah di hatiku
saat dirimu hadir untukku

ingin kudengar dari hatimu
sudikah kau tuk temani aku
begitu indah kurasakan
ada hadirmu, memang untukku
dan kini,

takkan ada (yang kan mengisi hatiku)
dirimulah (satu kan mengisi hatiku)
percayalah (ku katakan pada dirimu)
sayangku hanyalah untukmu
selamanya
slama-lamanya
hari ini esok dan nanti
kau tetap terindah di hatiku
bila kau izinkanku
tuk slalu bersamamu

inginku bisikkan desah hatiku
dapatkah kau dengar detak jantungku
kau bukakan mata hatiku
kau yakinkan diriku
akankah cinta ini yang kan satukanku denganmu
Satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. Kalo tiga? Hah mampus kau vik :'D 
source: www.space.com


Bawa aku ke Mars
Dimana hanya ada aku dan kamu
Sebagai manusia

Bawa aku ke mars
Mari bangun sebuah desa disana
Mari bangun keluarga kita disana

Mendapatkan makanan lewat budiaya aeroponik
Mendapatkan uang dengan menjadi bintang acara 'Mars Family' di National Geographic
Menjadi kepala suku dengan anggota alien-alien dari planet lain
Menjadi artis setiap kali pulang ke bumi
Dipuja karena kita yang berani
Ditangisi saat harus pergi ke mars lagi
Karna tak tau kapan akan kembali

Bawa aku ke mars
Sesungguhnya, alasan yang terbesar adalah
Aku ingin bersamamu.

Kemanapun kau bawa aku
Itulah mars
Mars Is Our Home.