ngimpi!

mim·pi n 1 sesuatu yang terlihat atau dialami dalam

tidur; 2 ki angan-angan;(kbbi 2014)

saya mimpi aneh banget tadi malem, mimpi terhoror yang pernah saya alami sampai detik ini.

sebelumnya, kemaren minggu saya habis touring ke wonogiri sama temen-temen PMK satu angkatan. yeah alhasil bokong jadi panas tingkat galaksi karena hampir 2,5 jam duduk di atas motor apalagi saya yang di depan. pf.
sampai rumah, mandi bla bla bla dan berencana juga untuk nonton debat capres sampai selesai. namun rencana hanya tinggal rencana. baru seperempat jalan saya udah molor di depan tv. dan disitulah kisah seram saya dimulai...



Keluargaku baru saja pindah ke rumah baru. rumah ini lebih besar, lebih luas, lebih teduh, namun gelap dan dingin. Bahkan aku tidak bisa melihat jalan dari teras rumahku yang baru karena terlalu banyak pohon besar yang menutupi pandangan. 

Saat duduk di teras, tiba-tiba sebuah sangar burung jatuh dari langit. "brakk!"

mengagetkanku. Apalagi saat itu aku di rumah sendirian.

Setelah pulih dari kekagetanku, aku lantas mendekati sarang burung itu. tidak ada burung di dalamnya. yang makin membuatku bingung dan takut adalah adanya secarik kertas yang ada di dalam sarang burung itu. kertas itu bertuliskan:
"Tolong aku.." 

insting detektifku mulai bekerja. siapa yang menulis pesan ini? mengapa di dalam sangkar burung ini? bagaimana cara mengirimkannya? sambil memandangi kertas itu, aku merasa bahwa ada yang tidak beres di sekitar rumah baru ini..


rupanya aku punya tetangga. sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, satu anak lelaki dan satu anak perempuan. Namun aku belum menjumpai si anak perempuan, karena ternyata anak perempuan itu telah pergi dari rumah selama berhari-hari. padahal sebentar lagi kakak lelakinya akan menikah. mereka sudah berusaha mencari anak bungsu yang hilang itu, namun hingga kini pencarian itu belum membuahkan hasil. saat mereka menceritakan anak mereka yang hilang, calon istri si anak lelaki dari keluarga tersebut datang.


dia cantik, dengan rambut yang di-at merah. wajahnya berbinar taklala melihat calon suaminya, dan seakan menganggapku -tetangga-lama-yang-sering-berkunjung- tak sedikitpun dia menggubrisku. Cantiknya membuat penasaran, sekaligus menimbulkan keengganan untuk mengenalnya lebih jauh. si nona cantik ini tidak mau mengulur waktu pernikahan "hanya" karena calon adik iparnya hilang. herannya, anak lelaki keluarga itu tampak tenang juga, seperti tdak terpengaruh oleh pencobaan yang keluarganya alami. ada apa ini sebenarnya?


aku berjalan pulang ke rumah baruku. masih digelayuti oleh kisah sedih keluarga tetangga serta takut ada sangkar burung yang jatuh di hadapanku lagi. ingin rasanya bercerita tentang -pesan-dalam-burung-sangkar- yang jatuh ke terasku kepada tetangga baru itu, namun entah mengapa aku urung mengutarakannya. merasa seakan ini bukan waktu yang tepat. tiba-tiba hal yang aku takutkan benar-benar terjadi.

"brakk!"
pesan lagi. dalam sebuah sangkar burung lagi. jatuh tepat di hadapanku.
kukira pesan yang tertulis akan sama, namun kali ini berbeda. lebih panjang, dan lebih jelas:
"tolong.. aku disika. diancam. tak dicintai."
entah apa yang merasuki tiba-tiba semuanya terlihat jelas, bayangan di otakku, hipotesis liar berlangsung seru dalam pikiranku.
gadis malang yang hilang itu. disekap di suatu tempat. oleh calon kakak iparnya. terancam terbunuh. dalam bahaya. harus diselamatkan. gadis itu mencintai kakaknya. mencintai dengan cara yang salah. mengingini dengan cara yang salah. gadis itu membangkitkan kecemburuan calon kakak iparnya. gadis itu.. ingin merebut kakak lelakinya dari nona gadis merah itu.

aku tersadar kembali, berbarik arah dan berlari menuju rumah tetangga baruku itu. hari sudah hampir malam, mungkin waktunya sudah habis. mungkin aku sudah terlambat. aku panik, sekitarku sangat gelap. jauh sekali? 


akhirnya aku sampai di rumah itu lagi. gawat. hanya tinggal si anak lelaki dan calon istrinya. kedua orangtua anak lelaki itu rupanya hendak mencari anak perempuan mereka kembali. aku jadi enggan mendekat, takut jika mereka tersinggung dengan "penglihatan atau hipotesis atau apalah itu" dan mengusirku jauh-jauh. belum sempat aku berbalik dan pulang, anak lelaki melihatku dan menyuruhku masuk kedalam rumah.


ragu-ragu aku masuk, mengikutinya menuju dapur. si nona merah diam saja melihatku, dan hal itu membuatku semakin gugup. wajahnya kian cantik namun mengintimidasi. membuatku seperti seonggok daging yang tidak berguna.

"sayaang, tadi aku beli es krim buat kamu lho, udah dimakan belum?" kata si nona merah tiba-tiba. 
"wah, iya? belum nih, dimana emang es krimnya?" jawab si anak lelaki sambil menoleh kesana-kemari mencari es krim
"dimakan dong, itu di dalem freezer kulkas." kata si nona merah sambil memasukkan tangannya kedalam sarung tangan plastik kuning menyala. mengapa dia melakukan hal tersebut?
"oh ini.." kata si anak lelaki sambil membuka kulkas. dia mengambil kotak es krim itu, mengambil sendok dan memasukkan sesendok besar es krim itu kedalam mulutnya. hei, rasanya ada yang aneh dari es krim itu..
"huek. blahh" tiba-tiba si anak lelaki memuntahkan kembali es krim yang telah ditelannya. es krim itu, aneh..
"ini es krim apa? kok manis-manis asin amis gitu?" teriak si anak lelaki yang masih syok dengan es krimnya. aku tertarik untuk melihat es krim apa itu. aku dan anak lelaki sibuk mengamati kotak es krim sementara si nona merah berjalan mendekati kami. tunggu.. itu bukan es krim.. itu daging..
"huaaaaaaaaa" aku dan anak lelaki berteriak ketakutan. anak lelaki itu tampak sangat syok dan takut dan jijik karena telah menelan daging.

'bodoh. ini daging. daging orang yang kau cintai. yang mencintaimu dengan cara yang salah.' kata si nona merah dengan tenang sambil mengambil kotak "es krim" itu.

aku berlari keluar dari dapur. rupanya sudah terlambat untuk memperingatkan si anak lelaki. jelas sudah bahwa si nona merahlah yang membawa kabur si anak perempuan, dan membuatnya menjadi es krim, serta menyajikannya pada si anak lelaki a.k.a calon suaminya ini. ada yang tidak beres dengan si nona merah itu.
takut dijadikan "es krim" yang selanjutnya, aku terus berlari. namun si nona merah mengikuti dengan senyum terkembang. apa yang terjadi dengan si anak lelaki? apakah dia pingsan? atau telah dibunuh? aku semakin takut dan semakin berlari sementara hari kian gelap. si nona merah tertawa-tawa dan mengambil bulatan besar es krim itu dengan tangannya yang sudah terbungkus sarung tangan plasting kuning menyala, lalu melempar bulatan-bulatan itu ke arahku.
aku histeris, semakin berlari sambil menutup kedua telingaku, dan berteriak-berteriak panik. aku menyesal telah berteriak-teriak karena ada sedikit es krim yang masuk ke mulutku. aku makin takut. aku makin histeris. bulatan-bulatan itu makin banyak, makin deras. sarung tangan karet kuning menyala itu makin dekat. 

saya bangun dengan jantung deg-degan tak karuan. berdebar sekali. dan mimpi itu masih terbawa-bawa sampai sekarang. akankah saya menjadi langsing karena tidak doyan es krim lagi?


ps: bagaimana surat itu bisa masuk ke dalam sangkar burung dan jatuh di hadapan saya, saya tidak tahu. saya juga tidak mau melanjutkan "mencari tahu lagi" nanti malam..


0 komentar: