Praktikum Sosiologi Pedesaan

Kiri ke kanan: ajibagas, avie, pak lurah (sepertinya), pegawai kecamatan 1, pegawai kecamatan 2, atika, alfian. Saya kok kayak bapak-anak yaa sama pak camat..
Awalnya, praktikum ini bikin saya males setengah mati karena HARUS NGINEP. Saya aja kalo praktikumnya kelamaan dan bikin pulang malem bisa bete, apalagi kalo harus nginep.. Oh man!
Untungnya, saya punya teman sekelompok yang asikk banget, sungguh.

Ada ajibagas, anggota paling galak. Anehnya, kadar galaknya bertambah berkali-kali lipat sama saya. Kami menyebutnya mbah ajik. Dia memanggil saya si alay.
Ada alfian, anggota yang paling ngeselin bawel. Ini anak kalo belum ngejek cara ketawanya mami bakalan belum puas. Dia juga anggota kelompok yang paling guendut, dan karena tingkahnya yang masih childish maka kami memanggilnya dek ndut.
Ada atika, anggota yang paling sabar. Yang paling rela berkorban demi 3 anggota lain yang Cuma banyak ngerepotin aja hahaha. Karena atika adalah anggota yang kami andalkan maka kami memanggilnya mami.

Terus ada saya dong :D anggota paling ter-raisa, ter-agnezmo juga boleh. Saya dipanggil cucu, karena tiap hari selalu padu sama yang namanya ajibagas. Dia yang mulai duluan keleus, huf
Praktikum dimulai dengan berkumpul pagi-pagi benar (awas kalau terlambat! Resiko ditinggal bus tanggung sendiri! coass, 2013), lalu diberi pengarahan kata sambutan dll dari dosen dan coass. Trauma saya akan osmaru langsung kambuh waktu itu. Bayangan saya, kalau satu angkatan disuruh baris di halaman fakultas pasti itu osmaru (okee osmaru memang meninggalkan kesan yang tidak terlalu baik untuk saya). Setelah acara tersebut kami naik ke bus yang akan mengantar kami ke Wonogiri :D
Karena masih semester 1, kami agak canggung juga waktu di perjalanan. Walaupun sudah pernah kumpul bareng untuk konsul bikin draft dsb tapi tetap saja kami masih merasa enggan buat ngobrol-ngobrol, saya kan juga harus jaim dikit hahaha. Jadilah perjalanan ke Wonogiri sebagian besar digunakan untuk tidur, atau sibuk dengan headset masing-masing. Lanjut~
Kami tidak langsung “dibuang” ditempatkan ke homestay, tapi dikumpulkan di kecamatan masing-masing. Disitu, kami melakukan wawancara dengan petugas kecamatan. Ralat ding, Cuma saya yang wawancara. Si alfian sibuk foto-foto sementara atika sibuk bengong dan aji entah saya lupa dia sibuk ngapain. Ini buktinya:
Yupz, saya yang dilingkari garis pink cantik. Saya imuut banget ya kalo difoto dari samping.. 
Setelah wawancara barulah kami dibuang ke homestay. Kami dapet homestay yang sama dengan kelompok dari jurusan PKP yang beranggotakan… ah saya lupa namanya. Tapi saya gak lupa wajahnya, kok. Sempat terjadi diplomasi antara kami dengan ibu pemilik homestay (daripada ribet mulai dari sini saya memanggilnya Ibu kos) supaya yang cowok boleh tinggal satu rumah dengan cewek. Yaps, pada awalnya pak lurah berencana memisahkan kami, jadi yang cewek tinggal di homestay dan yang cowok tinggal di rumah lain. Takut nanti praktikum akan terganggu dan para lelaki kehilangan kesempatan untuk merampas cemilan yang dibawa anak perempuan, kami berusaha merajuk mati-matian dan memastikan tidak ada kegiatan aneh seperti ritual pemujaan setan di homestay. Lagipula ibu kos tinggal di rumah yang sama kok, jadi pengawasan bisa dilakukan.. Setelah dihujani alasan bertubi-tubi, akhirnya kami diijinkan tinggal satu rumah dengan kamar yang berbeda. Daan praktikumpun dimulai! :D
Sebenernya, praktikum sosped itu guampang banget. Hal yang perlu dilakuin dalam praktikum tersebut adalah mewawancarai para petani dengan status berbeda (pemilik penggarap, penyakap, penyewa, dan buruh tani) tentang luas lahan mereka, hasil panen, kebiasaan desa setempat, pokoknya yang berhubungan dengan kegiatan sosial para petani lah. Ini masih lebih sopan dan simple dibanding praktikum ekoper yaa. Bab tentang praktikum ekoper yang eksentrik akan saya ceritakan di lain waktu. Biar lebih gampang ngebayangin praktikumnya, saya kasih foto-fotonya aja ya: (bukan, saya bukan mau pamer foto-foto cantik saya kok)
Rambut sayaaaa :O OHMYGOD. Pantesan bapaknya lihat ke arah lain, jangan-jangan dia ngetawain rambut saya yang kayak rambutnya Hermione di film Harry Potter yang pertama  -_-    

Saya, mami tika, dan salah satu narasumber yang telah baik hati mengajarkan kami cara mengupas mete. Di samping kanan saya ada sapi, ajibagas bilang saya mirip sapi. Hikz cediih

Bukan sayang, itu bukan foto prewed.. itu foto mami atika dan ajibagas yang sedang mewawancarai narasumber yang berbeda. Bagus ya fotonya, alfian emang fotografer top! (mudah-mudahan habis ini saya diajak jadi modelnya amin)
Melihat tampang ajibagas yang melas dan mbahkung yang tersenyum haru, saya menduga jangan-jangan mereka kakek dan cucu yang telah lama berpisah.. 
em.. Pengen majang muka imut saya aja sih. Ga suka? Yws

anak dari ibu homestay kami. Maaf ya dekk kakak lupa nama kalian berdua T.T
Ibu Petani ini langsung buru-buru kabur setelah kami wawancarai, sepertinya dia masih curiga bahwa saya dan mami tika adalah sales pupuk yang menyamar jadi mahasisiwi. Huf..
ternyata mami juga bisa alay bergaya
ademm aja ngeliatinnya

Enggak semua petani menderita seperti yang sudah diberitakan di tipi-tipi. Bapak ini PNS dan dia jadi petani untuk melangsungkan hobinya. WOW. Penghasilannya perbulan? Jutaan coy..


Nah, kayak gitu wawancaranya. Kami melakukan wawancara dari pagi-pagi benar sampai sore, nah malamnya kami ngisi data rekap deh.. Mengisi data rekap seru karena dipenuhi teriakan bar-bar untuk meminjam setip, iya, Cuma mami atika yang bawa penghapus, yang lain mah kagak modal..
3 hari yang saya jalani bersama mereka ternyata tidak semenyeramkan yang saya duga. Biasanya para lelaki sangat tidak bisa diandalkan dalam kerja kelompok, tapi ajibagas dan alfian sangat bertanggung jawab dengan tugas mereka masing-masing. Si alfian ini (saya baru nyadar Cuma ada satu foto yang ada dianya) jadi jubir saat kami menghadapi narasumber yang hanya bisa Bahasa Jawa Krama. Alfian juga berhati besar karena rela meminjamkan kameranya seharian penuh ke saya dan mami atika buat dipake jalan-jalan cuntiks keliling sawah hahaha. Ajibagas berhasil jadi penghibur buat satu kelompok karena sifatnya yang terlalu kaku hahaha. Setiap pertanyaan yang dia lontarkan sama persis sama yang ada di kuisioner. Lah yang sepuh-sepuh kan yo kasihan.. Saya juga gak bakal lupa sama cita-cita muliamu buat bikin toko cangkul kredit jik :))
Praktikum ini juga telah membuka mata-hati-telinga saya untuk lebih bersyukur sama Tuhan Allah. Coba bayangin deh bagaimana narasumber kalian yang seorang ibu-ibu mengutarakan jawabannya dengan suara tercekat dan mata berkaca-kaca. Mendengar mereka berbicara tentang betapa beruntungnya kami yang bisa sekolah tinggi sampai kuliah. Mendengar pesan mereka agar kelak jika kami sudah lulus kami bisa membawa perubahan yang lebih baik buat para petani. Praktikum yang satu ini memang beda, dan gak akan pernah saya lupakan.
                                   Bonus: foto selfie cantik saya. Keep Thankfull~

0 komentar: