Saya sangat menanti-nantikan hujan.
Di daerah kampus sudah hujan kemarin malam (berdasarkan kesaksian seorang kawan)
tapi di daerah saya tampak makin kering kerontang
tiap sore ibu saya menyirami halaman
kini, bapak sayapun juga tergerak hatinya untuk ikut menyiram halaman
Di suatu sore yang syahdu, dengan udara agak sejuk karena halaman rumah sedang disiram
saya menghampiri ibu saya yang sedang duduk santai di teras sambil membaca tabloid.
bapak asyik menyiram rumput-rumput yang tumbuh di halaman.
iseng saya bertanya,
'Buk, kapan hujan ya? Udah gak tahan panasnya, nih. Kampus aja udah hujan kemarin malam.'
Ibu saya menjawab sekenanya,
'Lah, kasihan Budhe Martha sama batu batanya, dong. Kalo hujan sebelum batu batanya dibakar kan rugi.'
Sebagai mahasiswa pertanian, nurani saya bereaksi
'Lho.. kalo gak hujan-hujan trus kapan petani bisa nanem padinya?'
Ibu saya berhenti membaca tabloid, dan memandang saya
'Ya mungkin Tuhan lagi berpihak pada Budhe Martha.'
Saya diam.
Masak sih, Tuhan memihak?
Atau memang karena Tuhan bijaksana maka Ia baru menurunkan hujan ke kampung saya selepas Budhe Martha membakar adonan batu batanya?
Merasa tidak menemukan jawaban
Saya memutuskan kembali ke kamar.
Mengusap keringat
Menyalakan kipas
Menyibakkan poni
Sambil terus berharap agar Budhe Martha segera membakar batu batanya
Berharap Tuhan lekas menurunkan hujan ke kampung ini.
Panas Ini Membuatku Berpikir, dan Merenung.
About author: Kerenhapukh Avie Eldeka
your 11:11 wish, a so(i)ldier.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar: