Stop This Train

source: http://hdw.eweb4.com/out/1071121.html



‘jess jess jess jess’
Kereta melaju dengan perlahan. Meninggalkan stasiun yang tidak begitu ramai itu. Menyongsong matahari yang terbenam. Cahaya matahari yang berwarna oranye masuk melalui jendela kereta api dan membuat rambut Hilal terkena sinarnya juga.
Hilal memandang jauh ke luar jendela. Merekam perjalanan yang mungkin akan menjadi perjalanan terakhirnya ke kota ini. Kota tempat dia berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan gelar sarjana di depan namanya. Tempat dimana ia pernah merasakan cinta, patah hati, harapan, putus asa, kegagalan, dan keberhasilannya untuk wisuda.
Hilal mengingat kali pertama ia menuju kota ini, juga dengan menggunakan kereta. Masih terbayang dimana Hilal merasa sendu karna rindu kampung halaman. Merindukan aroma tubuh Bapak yang sedikit berbau asap rokok, merindukan harum menggiurkan nasi goreng masakan Ibu, merindukan teman-teman SMAnya, gebetan masa SMA dulu, Hilal merindukan semuanya. Terlebih merindukan Ruth, kekasih yang harus dipacarinya jarak jauh itu.
Hilal mengingat kali pertama ia pulang kampung dari kota ini. Betapa ia sangat bahagia akan segera bertemu dengan orang rumah setelah berbulan-bulan tidak bersua. Hilal terus menggenggam erat bungkusan kecil yang akan diberikannya untuk Ruth, sebagai permintaan maaf karna tidak bisa menjadi kekasih yang bisa bertemu setiap saat dengannya.
Kini, tidak ada lagi Ruth. Sudah menikah dengan lelaki yang selalu berada di sampingnya. Lelaki yang bisa mengantarnya kemanapun dan kapanpun. Lelaki yang tidak hanya bisa membuainya dengan kalimat manis lewat sms. Hati Hilal sedikit nyeri mengingat kembali sosok Ruth yang mungkin kini sudah menimang bayinya. Bahkan hingga saat ini belum ada yang bisa menggantikan sosok Ruth di dalam hatinya.
Kereta mulai berjalan pelan, hendak berhenti di stasiun berikutnya. Masih banyak stasiun yang harus Hilal lewati. Perjalanannya masih jauh. Masih banyak waktu untuk melamun. Masih ada banyak waktu untuk mengenang. Urusan mau apa dia setelah ini, Hilal belum tahu.
Hilal sudah lulus kuliah. Sudah punya gelar. Memang sih, belum punya pacar. Bapak dan Ibu berulangkali menawarinya untuk lanjut S2, tapi Hilal tak enak hati melihat perjuangan Bapak Ibunya yang begitu luar biasa untuk mengantarkan Hilal lulus kuliah S1. Ditolaknya tawaran Bapak dan Ibu, sembari berjanji akan membiayai sendiri kuliah S2nya dengan gaji yang Hilal dapat nanti. Mau kerja di mana? Mau daftar kerja di mana? Sekali lagi, Hilal belum tahu.
Hilal hanya merasa bahwa waktu berjalan terlalu cepat. Terlalu cepat untuk bisa ia kejar. Sebagai anak bungsu, Hilal harus dijadikan “bibit pamungkas terbaik” oleh orang tuanya. Saat SD ia sudah kenal aksel. Berlanjut sampai SMA, dia terus mengikuti progam aksel. Di kampus, ia lulus cepat. Masih muda, pintar, berotak cemerlang. Pujian itu terus dia terima dari sana-sini. Tapi sesunguhnya, Hilal tidak tahu apa yang dia lakukan. Hanya ikut perintah Bapak Ibu agar mereka senang. Jurusan kuliahpun orangtuanya yang memilih. Sekali lagi, Hilal merasa seperti anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.

‘Sudah sampai di mana dek? Nanti kalau sudah mau sampai stasiun, telfon bapak ya. Biar bapak dan ibu bisa langsung jemput kamu.’
Hilal membaca sms dari Bapaknya, dan hendak membalas bahwa ia akan sampai 1 jam lagi. Namun, berbagai pertanyaan hinggap di benak Hilal.

‘Aku mau kerja dimana? Aku belum siap.’
‘Mau nurut lanjut S2 sekarang? Kasihan Bapak dan Ibu.’
‘Apa yang aku nantikan di kota ini? Hanya Bapak dan Ibu. Tidak ada Ruth.’
‘Bahkan tidak tahu harus bersikap apa jika tak sengaja bertemu Ruth.’

Hilal memandang ke luar jendela. Pemandangan rumah berderet-deret kini berganti dengan pemandangan padang rumput. Angin semilir masuk lewat jendela dan menyejukkan Hilal. Sinar matahari sore semakin ke barat, menyinari wajah dan bahu Hilal dengan hangat. Hilal tersadar dari lamunan dan peperangan batinnya, lalu mengetik sms balasan buat Bapak.
‘Maaf pak. Saya harus pergi melihat dunia. Saya terlalu muda untuk mulai serius bekerja. Kelak saya akan kembali ke rumah, saya janji. Salam buat ibu.’

Pesan terkirim. Hilal mematikan handphonenya, melihat stasiun dimana ia seharusnya turun. Dimana ia seharusnya sudah berjumpa dengan Bapak dan Ibu, bahkan mungkin dengan Ruth. Hilal tidak bergeming dari kursinya sampai kereta berjalan kembali. Meneruskan perjalanan. Membawa Hilal ke tempat yang belum pernah Hilal datangi sebelumnya. Hilal berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia baru akan turun di stasiun terakhir tempat kereta api itu menuju.

No I'm not color blind
I know the world is black and white
Try to keep an open mind but
I just can't sleep on this tonight
Stop this train I want to get off and go home again
I can't take the speed it's moving in
I know I can't
But honestly won't someone stop this train

Don't know how else to say it, don't want to see my parents go
One generation's length away
From fighting life out on my own

Stop this train
I want to get off and go home again
I can't take the speed it's moving in
I know I can't but honestly won't someone stop this train

So scared of getting older
I'm only good at being young
So I play the numbers game to find a way to say that life has just begun
Had a talk with my old man
Said help me understand
He said turn 68, you'll renegotiate
Don't stop this train
Don't for a minute change the place you're in
Don't think I couldn't ever understand
I tried my hand
John, honestly we'll never stop this train

See once in a while when it's good
It'll feel like it should
And they're all still around
And you're still safe and sound
And you don't miss a thing
'til you cry when you're driving away in the dark.

Singing stop this train I want to get off and go home again
I can't take this speed it's moving in
I know I can't
Cause now I see I'll never stop this train

Stop This Train - John Mayer

0 komentar: