Kereta melaju dengan perlahan.
Meninggalkan stasiun yang tidak begitu ramai itu. Menyongsong matahari yang
terbenam. Cahaya matahari yang berwarna oranye masuk melalui jendela kereta api
dan membuat rambut Hilal terkena sinarnya juga.
Hilal memandang jauh ke luar
jendela. Merekam perjalanan yang mungkin akan menjadi perjalanan terakhirnya ke
kota ini. Kota tempat dia berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan gelar
sarjana di depan namanya. Tempat dimana ia pernah merasakan cinta, patah hati,
harapan, putus asa, kegagalan, dan keberhasilannya untuk wisuda.
Hilal mengingat kali pertama ia
menuju kota ini, juga dengan menggunakan kereta. Masih terbayang dimana Hilal
merasa sendu karna rindu kampung halaman. Merindukan aroma tubuh Bapak yang
sedikit berbau asap rokok, merindukan harum menggiurkan nasi goreng masakan
Ibu, merindukan teman-teman SMAnya, gebetan masa SMA dulu, Hilal merindukan
semuanya. Terlebih merindukan Ruth, kekasih yang harus dipacarinya jarak jauh itu.
Hilal mengingat kali pertama ia
pulang kampung dari kota ini. Betapa ia sangat bahagia akan segera bertemu
dengan orang rumah setelah berbulan-bulan tidak bersua. Hilal terus menggenggam
erat bungkusan kecil yang akan diberikannya untuk Ruth, sebagai permintaan maaf
karna tidak bisa menjadi kekasih yang bisa bertemu setiap saat dengannya.
Kini, tidak ada lagi Ruth. Sudah
menikah dengan lelaki yang selalu berada di sampingnya. Lelaki yang bisa
mengantarnya kemanapun dan kapanpun. Lelaki yang tidak hanya bisa membuainya
dengan kalimat manis lewat sms. Hati Hilal sedikit nyeri mengingat kembali
sosok Ruth yang mungkin kini sudah menimang bayinya. Bahkan hingga saat ini
belum ada yang bisa menggantikan sosok Ruth di dalam hatinya.
Kereta mulai berjalan pelan,
hendak berhenti di stasiun berikutnya. Masih banyak stasiun yang harus Hilal
lewati. Perjalanannya masih jauh. Masih banyak waktu untuk melamun. Masih ada
banyak waktu untuk mengenang. Urusan mau apa dia setelah ini, Hilal belum tahu.
Hilal sudah lulus kuliah. Sudah
punya gelar. Memang sih, belum punya pacar. Bapak dan Ibu berulangkali
menawarinya untuk lanjut S2, tapi Hilal tak enak hati melihat perjuangan Bapak
Ibunya yang begitu luar biasa untuk mengantarkan Hilal lulus kuliah S1. Ditolaknya
tawaran Bapak dan Ibu, sembari berjanji akan membiayai sendiri kuliah S2nya
dengan gaji yang Hilal dapat nanti. Mau kerja di mana? Mau daftar kerja di mana?
Sekali lagi, Hilal belum tahu.
Hilal hanya merasa bahwa waktu
berjalan terlalu cepat. Terlalu cepat untuk bisa ia kejar. Sebagai anak bungsu,
Hilal harus dijadikan “bibit pamungkas terbaik” oleh orang tuanya. Saat SD ia
sudah kenal aksel. Berlanjut sampai SMA, dia terus mengikuti progam aksel. Di
kampus, ia lulus cepat. Masih muda, pintar, berotak cemerlang. Pujian itu terus
dia terima dari sana-sini. Tapi sesunguhnya, Hilal tidak tahu apa yang dia
lakukan. Hanya ikut perintah Bapak Ibu agar mereka senang. Jurusan kuliahpun
orangtuanya yang memilih. Sekali lagi, Hilal merasa seperti anak kecil yang
terperangkap dalam tubuh orang dewasa.
‘Sudah sampai di mana dek? Nanti kalau
sudah mau sampai stasiun, telfon bapak ya. Biar bapak dan ibu bisa langsung
jemput kamu.’
Hilal membaca sms dari Bapaknya,
dan hendak membalas bahwa ia akan sampai 1 jam lagi. Namun, berbagai pertanyaan
hinggap di benak Hilal.
‘Aku mau kerja dimana? Aku belum siap.’
‘Mau nurut lanjut S2 sekarang? Kasihan Bapak dan Ibu.’
‘Apa yang aku nantikan di kota ini? Hanya Bapak dan Ibu. Tidak ada
Ruth.’
‘Bahkan tidak tahu harus bersikap apa jika tak sengaja bertemu Ruth.’
Hilal memandang ke luar jendela. Pemandangan
rumah berderet-deret kini berganti dengan pemandangan padang rumput. Angin
semilir masuk lewat jendela dan menyejukkan Hilal. Sinar matahari sore semakin
ke barat, menyinari wajah dan bahu Hilal dengan hangat. Hilal tersadar dari
lamunan dan peperangan batinnya, lalu mengetik sms balasan buat Bapak.
‘Maaf pak. Saya harus pergi
melihat dunia. Saya terlalu muda untuk mulai serius bekerja. Kelak saya akan
kembali ke rumah, saya janji. Salam buat ibu.’
Pesan terkirim. Hilal mematikan
handphonenya, melihat stasiun dimana ia seharusnya turun. Dimana ia seharusnya
sudah berjumpa dengan Bapak dan Ibu, bahkan mungkin dengan Ruth. Hilal tidak
bergeming dari kursinya sampai kereta berjalan kembali. Meneruskan perjalanan. Membawa
Hilal ke tempat yang belum pernah Hilal datangi sebelumnya. Hilal berjanji pada
dirinya sendiri bahwa ia baru akan turun di stasiun terakhir tempat kereta api
itu menuju.
No I'm not color blind
I know the world is black and white
Try to keep an open mind but
I just can't sleep on this tonight
Stop this train I want to get off and go home again
I can't take the speed it's moving in
I know I can't
But honestly won't someone stop this train
Don't know how else to say it, don't want to see my parents go
One generation's length away
From fighting life out on my own
Stop this train
I want to get off and go home again
I can't take the speed it's moving in
I know I can't but honestly won't someone stop this train
So scared of getting older
I'm only good at being young
So I play the numbers game to find a way to say that life has just begun
Had a talk with my old man
Said help me understand
He said turn 68, you'll renegotiate
Don't stop this train
Don't for a minute change the place you're in
Don't think I couldn't ever understand
I tried my hand
John, honestly we'll never stop this train
See once in a while when it's good
It'll feel like it should
And they're all still around
And you're still safe and sound
And you don't miss a thing
'til you cry when you're driving away in the dark.
Singing stop this train I want to get off and go home again
I can't take this speed it's moving in
I know I can't
Cause now I see I'll never stop this train
Stop This Train - John Mayer
No I'm not color blind
I know the world is black and white
Try to keep an open mind but
I just can't sleep on this tonight
Stop this train I want to get off and go home again
I can't take the speed it's moving in
I know I can't
But honestly won't someone stop this train
Don't know how else to say it, don't want to see my parents go
One generation's length away
From fighting life out on my own
Stop this train
I want to get off and go home again
I can't take the speed it's moving in
I know I can't but honestly won't someone stop this train
So scared of getting older
I'm only good at being young
So I play the numbers game to find a way to say that life has just begun
Had a talk with my old man
Said help me understand
He said turn 68, you'll renegotiate
Don't stop this train
Don't for a minute change the place you're in
Don't think I couldn't ever understand
I tried my hand
John, honestly we'll never stop this train
See once in a while when it's good
It'll feel like it should
And they're all still around
And you're still safe and sound
And you don't miss a thing
'til you cry when you're driving away in the dark.
Singing stop this train I want to get off and go home again
I can't take this speed it's moving in
I know I can't
Cause now I see I'll never stop this train
Stop This Train - John Mayer

0 komentar: