rencana awal a.k.a rencana indah ala ftv karangan saya dan sari:
1. Mas Agil membuka acara api unggun dengan petikan gitar 'Seribu Lilin Nyalakan'
2. Semua peserta memutari api unggun dengan tertib, bergerombol per gereja
3. Perwakilan tiap gereja mengedarkan natal ke teman-teman satu gerejanya. Lilin sudah dipersiapkan oleh sie perlengkapan (baca: Mas Ucok dan Mas Sigit)
4. Sari memanggil tiap ketua komisi pemuda remaja per gereja untuk maju mendekati api unggun
5. Mas Santoso memberi nyala api kepada lilin yang dipegang oleh ketua komisi per gereja
6. Sembari ketua komisi kembali ke gerombolan gerejanya masing-masing dan membagi api lilin, Sari memberi sedikit perenungan tentang tahun 2014 dan tahun 2015 yang akan dijalani
7. Sari menutup perayaan natal dengan doa
8. Seluruh peserta diliputi rasa haru, tidak sedikit yang berkaca-kaca dan terisak
9. Api unggun dimulai! Tiap gereja perform dan berlangsung meriah.
Well, hidup ini memang tak seindah ftv, bukan?
kenyataan:
5 menit menuju api unggun, para peserta sudah berdiri gelisah dan berbisik--bisik di dekat tempat api unggun. Para panitia masih bekerja santai ketika Adit bergumam,
'Mbak, kayaknya mau hujan nih. Gerimis.'
Saya tak percaya. 'Ah masa sih Dit. Perasaanmu aja kali.'
tes. butiran air jatuh mengenai tangan saya. Kepala saya reflek menoleh ke arah Wandha yang sedang melongo, hendak menuduh bahwa dia telah mengeces (maaf saya gak tau kata itu dalam Bahasa Indonesia). Ada butir air yang jatuh lagi, semakin banyak, semakin deras
yaelah gerimis ini namanya.
'Lanjut ga nih?' Tanya Adit panik
'Tunggu gerimisnya berhenti aja.' Saya menjawab dengan bersikap tenang sok bijak. Padahal di dalam hati udah panik gak karuan ngebayangin api unggunan di dalem aula. Nanti aulanya kebakar begimane?
Kami putuskan untuk menunggu. Menunggu gerimis untuk segera reda supaya api unggun dapat segera dimulai. Saya bengong teringat khotbah KKR yang baru saja kami ikuti sebelum api unggun ini:
'Apa yang gagal dalam sebuah acara untuk Tuhan? Kurangnya doa! Saya pernah ikut kepanitiaan yang mengesampingkan doa, dan hasilnya acara tersebut gagal total! Banyak kekurangan! Semua karena panitia yang terlalu sibuk bahkan untuk berdoa kepada Tuhan sekalipun!'
Duh Gusti.. Apa ini juga termasuk gagal? Apa kami panitia kurang tekun berdoa, ya? Ampuni kami, Tuhan. Gerimisnya udahan dong..
'Mbak Syallom gimana nih kok hujan. Hmmm pasti panitianya kurang berdoa ya.'
Saya hanya menoleh sambil tersenyum manis kepada anak itu. Kenal dia enggak, saya juga bingung mau jawab apa. Tunggu. Kenapa nama saya jadi Mbak Syallom?
Gerimis perlahan berhenti. Api unggun segera dimulai. Saripun beraksi.
'Ayoo semua peserta kumpul di deket api unggun ya. Kita mau mulai acara api unggunnya, keburu hujan lagi nih.'
satu dua peserta mulai bergerak menuruti perintah Sari. Puluhan peserta lain masih bergerombol dekat ruang makan, berharap ada jatah snack donat goreng kloter kedua.
'Ayo yang masih nggerombol di depan ruang makan segera ke tempat api unggun, yuk.' Sari kembali mengingatkan.
Keadaan tidak terlalu berubah. Hati saya tergerak untuk ikut menggiring domba-domba tersesat itu.
'Yuk dek, mbak, mas, keburu hujan lho.' Saya berjalan menuju ruang makan dan menggiring peserta untuk ke tempat api unggun.
'Ayo segera ke tempat api unggun ya.' Adith turut membantu
'Keburu hujan lho kakak-kakak, adek-adek.' Bahkan mas Wandhapun ikut membantu.
keadaan tidak kunjung berubah. Saya, Sari, Adith dan Wandha mulai panik. Panitia lain sok sibuk mengurusi jagung bakar.
Mas Santoso, yang dituakan oleh seluruh peserta (karena emang udah tua juga sih) ambil bagian.
'AYO SEGERA KUMPUL SUPAYA CEPAT SELESAI. NANTI KEBURU HUJAN. KALIAN MAU API UNGGUN DI DALEM AULA?' Mas Santoso udah pake toa, dua mic, dan masih teriak-teriak.
Suasana hening. Semua peserta langsung sigap mendekat ke api unggun. Hening. Mas Santoso mengembalikan toa dan dua mic itu ke Sari.
Memanfaatkan keheningan yang tercipta, Sari segera memulai acara api unggun. Dipanggilnya satu-persatu ketua komisi remaja tiap gereja untuk maju ke depan. Mas Agil sudah memainkan intro Seribu Lilin Nyalakan. Ketua komisi berjejer berantakan di depan api unggun. Bukan, ini bukan acara persembahan pembakaran ketua ke dalam nyala api unggun, kok.
Setiap ketua sudah memegang satu lilin, Di belakang kami, Mas Ucok sudah siap dengan korek apinya.
'Kita mau mulai api unggun pada malam ini. Setiap lilin yang diberikan pada Ketua adalah nyala api roh yang harus disebarkan ke tiap gereja masing-masing.' Ceile, bahasanya Sari tinggi amat yak.
Mas Ucok menyalakan lilin milik mas Santoso. Mas Santoso menyalurkan nyala api ke lilin-lilin milik ketua.
pff.
Lilin mati
pff
Lilin mati lagi
Wah, anginnya lumayan gede nih.
Api lilin mulai berhasil disalurkan. Giliran saya. Saya sudah mengulurkan lilin untuk segera dinyalakan
pff
Duh.
pff
Saya mulai panik. 'Mbak gimana nih kok ga mau nyala'
pff
pff
pff
pff
Yang terjadi kemudian adalah: para "relawan" dan Mas Santoso sibuk bergerombol ria berusaha menyelamatkan api lilin mereka. Mas Ucok tak kalah sibuk. Dia adalah juru selamat kami karena dia membawa korek api.
'Mas Ucok lilinku mati.'
'Mas Ucok gimana nih mati lagi lilinnya.'
'Mas Ucok, tempatku.'
'Mas Ucok.'
'Mas.'
'Mas.'
'Maaas.'
Peserta terdiam. Memandang prihatin ke arah kami yang kerepotan menjaga api lilin. Demi apapun, angin sangat kencang malam itu. Anginnya ngajak berantem.
Sari mencari alternatif lain.
'Ya bagi ketua yang sudah menyala lilinnya bisa kembali ke gereja masing-masing untuk menyalurkan api lilin.'
Saya cengoh karena dari tadi lilin saya zonk terus. Dengan memasang muka melas saya memohon pada Mas Ucok:
'Mas. Kamu ikut aku. Jangan kemana-mana. Gereja lain biarin aja, gak usah digagas. Yuk'. Mas Ucok manggut-manggut setuju. Kami berdua berjalan menuju gerombolan gereja saya, gerombolan anak-anak alay.
Saya merasa seperti orang terpilih, orang spesial, karena saya punya ajudan yang siap sedia membantu kala api lilin saya padam. Namun, senyum bangga di wajah ini langsung memudar begitu melihat anak-anak alay itu sebagian besar sudah menyala lilinnya.
'Loooh. Kok udah pada nyala?' Saya tak sanggup menahan kekecewaan.
'Iya mbak, tuh Mas Yosua bawa korek api..' Kata Ayu sambil sibuk menyalurkan api ke lilin anak gereja lain.
Saya terdiam. Tidak siap. Sudah membayangkan bahwa saya akan dikerubuti gerombolan anak-anak alay dan mereka akan menganggap saya sebagai malaikat penyelamat. Saya patah hati. Cintaku bertepuk sebelah tangan.
Niko melihat saya dengan pandangan prihatin, lalu meniup lilinnya dan menyodorkan lilinnya.
'Nih, bagi apinya dong.'
Saya tersenyum penuh haru. Anak-anak alay yang lain bergerak mendekati saya untuk meminta api. Saya semakin terharu, ternyata mereka lebih memilih saya daripada korek apinya Yosua. Saya mulai terisak. Eh. Tunggu. Kok makin banyak yang minta api? Tadi bukannya lilinnya Ayu udah nyala?
'Mba avik anginnya kencang banget, mati terus nih lilinku.' Kata Ayu
'Iya mbak duh kayak pantai deh.' Sahut Priskilla
'Untung rambutku tetep rapi.' Sahut Kristina.
Duh. Ternyata emang lilin mereka mati gegara angin, bukan karna milih saya -_-
Angin semakin kencang. Kami, gerombolan anak-anak alay semakin sibuk menularkan api lilin dan menjaga lilin masing-masing. Gereja-gereja lain juga melakukan hal yang sama. Di tengah kegaduhan itu, Sari mulai berbicara. Bukan, bukan Sari. Saya merasa, bahwa Tuhan sedang berbicara lewat Sari. Tubuh saya serasa beku saat mendengar Sari berkata-kata demikian:
'Kita bisa rasakan saat ini, kalo menjaga api lilin itu sulit. Menjaga Roh Allah itu sulit. Ada angin yang siap untuk memadamkan api, ada masalah, perbedaan pendapat yang dapat memadamkan api lilin kita. Tapi jangan biarkan angin-angin itu memadamkan semua api lilin di gerejamu. Pertahankan api lilinmu, salurkan ke saudaramu, sekelilingmu. Diberkati untuk menjadi saluran berkat, itu yang Tuhan mau untuk tahun yang baru ini.'
'Dek, lilinmu mati.' Mbak Anis memperingatkan saya sambil menyalurkan api lilin miliknya.
Saya emang sanguins, yang selalu bersemangat terutama untuk hal-hal yang saya sukai.
tapi saya juga sanguins yang gampang patah hati, gampang patah semangat bahkan oleh hal-hal remeh.
Saya pun plegmatis, yang pasif dan begitu malas kala saya sudah tidak mood lagi untuk mengerjakan sesuatu.
Anak-anak alay inipun punya beragam sifat, beragam karakter, beragam kebiasaan.
Justru di situlah Tuhan ingin tunjukan
bahwa keanekaragaman hayati itulah yang akan saling mengisi dan menguatkan,
serta disempurnakan oleh kasih Tuhan.
untuk kemuliaan namaNya.
keep your fire, be the light.
![]() |
| gerombolan anak alay. Iya, yang jaket biru itu emang yang paling alay. |


0 komentar: