Niat saya waktu awal membuat blog ini adalah untuk
sharing tentang gimana kuliah agrotekonologi yang sesungguhnya. Niat yang
sungguh mulia ini timbul akibat saya yang hopeless banget nyari-nyari tentang
“kuliah agrotek” atau “yang dipelajari di agrotek” bahkan “prospek kerja
agrotek” di google. Waktu itu saya baru aja lolos sbm dan dapet jurusan agrotek.
Sebagai anak muda yang “melek” internet saya langsung ngepoin agrotek
habis-habisan dong ya. Tapi meen, sedikit sekali info tentang agrotek.. Sampai
akhirnya saya nemu salah satu blog kakak tingkat saya (karna di info tertulis
dia anak agrotek uns) dan isinya lumayan membantu. Isi blognya itu tentang
hari-hari mos (yang ternyata sama aja kayak mos angkatan saya, huf) dan kuliah
agrotek secara umum. Cuma 2 postingan tentang agrotek, tapi itu sungguh membuat
saya tertolong. Minimal udah tahu lah ya bakal diapaian aja pas mos hehehe.
Nah makanya sekarang saya mau balas budi ke adik tingkat
yang mungkin sekarang juga lagi bingung tentang apa itu agrotek dan sebagainya.
Minimal kalo sharing tentang praktikum-praktikum gitu kan bisa bikin
kalian-kalian lebih siap.. Noh saya udah ketua BEM-able ya HAHAHA.
Sekarang saya mau cerita tentang praktikum TBT. Apa itu
TBT? TBT adalah singkatan dari Teknik Budidaya Tanaman. Bukan anak agrotek
namanya kalo belum dapet mata kuliah ini. TBT itu Bahasa simpelnya: nandur
a.k.a menanam. Iye, beneran.
Jadi ntar praktikum TBT itu dilaksanain di Jumantono,
Karanganyar (Faperta uns punya lahan disono). Kira-kira 30 menit dari kampus
lah, kalo dari rumah saya sih 1 jam.. Jangan kira ntar kita ke Jumantono satu
kali, praktikum mak nyik, pulang, bikin laporan, responsi, selesai. Duh,
praktikum TBT tidak seindah tendangan Xabi Alonso ke gawang Belanda, nak :”
Praktikum TBT dilaksanakan selama 10 minggu. Itu baru
praktikum lahan lho. Masih ada praktikum di lab, penimbangan dan lain-lain. Tapi
tenang, bukan berarti tiap hari kita kudu ke lahan kok, “cuman” seminggu
sekali.. babak dalam praktikum lahan TBT sendiri saya bagi menjadi 3, yakni babak awal,
babak malesi, dan babak semangat penghabisan.
Babak awal ada di minggu-minggu pertama, dimana kegiatan
yang dilakukan adalah:
1. mempersiapkan lahan
Kita dari rumah disuruh bawa cethok (masih
mending daripada bawa cangkul) lalu membolak-balik lahan kita. Tenang, gak ada
acara rebutan lahan kayak satpol pp kok, karna tiap kelompok udah dijatah 1
lahan yang mungil..
2. mengakrabkan diri dengan teman sekelompok
Kenapa harus mengakrabkan diri? Karena
selama 10 minggu kedepan kalian akan bertanggung jawab bersama atas tanaman
yang sudah dipercayakan oleh pihak coass ceilah (enggak sih, Cuma biar saya
bisa leha-leha sementara yang lain kerja HAHAH). Anggota kelompok saya ada adi,
andri, dan danang. Cowok semua, kurang beruntung apa coba! :D Jujur sih tugas
saya jadi ringan karena Cuma nyatetin tinggi jagung sama kacang tanah di
logbook. Tapi waktu andri keluar dari agrotek jadilah kelompok kami tinggal 3
orang (sebenarnya ada 5, tapi andin juga keluar hikz) dan saya tidak bisa
berleha-leha lagi ._. Adi dan Danang sepakat untuk menjunjung tinggi emansipasi
wanita dalam kesempatan kerja -_-huf
3. menanam
Ini proses yang ribet, karena harus pake
raffia biar jarak tanamnya pas. Belum lagi lahannya ada 2, satu buat jagung
satu lagi kacang tanah. Saran sih, jika kelompok kalian ada 4 orang seperti
kelompok kami, bagilah menjadi 2 untuk ngurus jagung dan kacang tanah. Nanti
yang satu tinggal bikin lubang tanam pake tugal, satu lagi masukkin benih ke
lubang tanam itu. Cepat dan ringkas. Silahkan dicoba J
Kita melangkah ke babak malesi (malesi:
bikin males). Babak ini brerlangsung dari minggu ke 3 sampe 9 hahaha enggak
ding. Pokoknya babak ini terjadi di tengah-tengah praktikum lahan, dimana
praktikan sudah mulai jenuh, capek bolak-balik Jumantono, ngurusin praktikum
mata kuliah lain, UKD, pokoknya menderitaaa. Ciri-ciri babak ini adalah dimana praktikan
sering datang telat ke lahan (karena males), dan antar anggota kelompok
bersitegang tentang siapa yang harus bawa ember buat nyiramin lahan. Bukan,
bukan kelompok saya kok.
Babak malesi berlangsung sangat lamban
sampai akhirnya masuk ke babak semangat penghabisan. Babak semangat penghabisan
akan muncul ketika kalian datang ke lahan dan melihat bahwa jagung dan kacang tanah hampir siap panen! :D
Merasakan gatal-gatal karena bulu-bulu
tanaman jagung, jaket yang harus rela saya pinjamkan ke danang karena ada
tudungnya, jinjit mati-matian buat ngukur tinggi tanaman jagung sama adi,
merayap buat ngukur kacang biar tanaman lainnya enggak rusak, itulah namanya
babak penghabisan. Kenapa babak penghabisan? Karna kami, para praktikan tahu
bahwa tidak lama lagi praktikum TBT akan berakhir huray!
Saat yang ditunggu-tunggu tiba. Panen! :D
capek sih, apalagi saya harus panen kacang sendirian sementara danang sama adi
ngurusin jagung -_- capek, gatal, sumuk semua jadi satu. Untung ngerjainnya
berkelompok, jadi enggak menderita-menderita bangetlah..
Eh, jangan kira kalo “panen” yang dimaksud
itu adalah metik-tongkol-jagung-masukin-karung atau cabut-kacang tanah-ambil
kacangnya-masukin-karung- yaa. Kalo panen jagung ya tanaman jagungnya dicabut
sampe ke akar-akarnya. Akar gak boleh putus dan tertinggal di dalam tanah. Sama juga
kayak kacang tanah. Itulah yang bikin ribet. Sehabis dicabut, tanaman jagung
masih dibagi lagi jadi bagian daun, batang, akar, sama tongkol. Trus dibungkus
koran dan diberi nama karena ada 5 sampel. Yang jadi usaha finalnya adalah
ngangkut ini panenan ke kampus, karena hari itu praktikum Kestan juga panen.
Bisa ngebayangin gak berapa karung yang harus kami bawa? Untunglah saya dan Ika
bisa selamat sampai kampus sambil bawa brangkasan basah segede gaban itu, fyuhh
Terus habis sampai kampus, brangkasannya
dibuang ke tempat sampah trus pulang gitu? Enak aja. Praktikum TBT enggak
seindah rambutnya Raisa di iklan Sunslik, nak. Sampe kampus brangkasan segar
tadi harus ditimbang per bagian dan per sampel. Selesai ditimbang, brangkasan
dibawa balik ke rumah, dikering-anginkan, dipotong kecill-kecil buat dioven
lagi di kampus. Setelah dioven brangkasan kembali ditimbang. (nimbang-nimbang
mulu, aku aja gak pernah ragu mempertimbangkanmu jadi pendamping hidupku lho
mas) Boleh bersenang hati saat kalian sudah rekap data berat brangkasan
ke coass. Karena itu artinya PRAKTIKUM SELESAI! YE! PUJITUHAN!tapi masih ada
laporan dan responsi lho Hahaha semangat!
-bonus: tips menghadapi praktikum lahan TBT-
1. bawa jas hujan dan payung selalu. Cuaca
semakin sulit diprediksi, dan gak mau juga kan hujan-hujanan sama jagung dan
kacang tanah..
2. pakai sandal jepit aja, kalo perlu gak
usah pake alas kaki. Tanah Jumantono kalo basah jadi lengket, dan bagi elu-elu
yang memuja high heels sebagai dewi fashion, lupakan itu di Jumantono, trust
me.
3. Beri identitas alat tulis kalian, juga
cethok. Banyak terjadi kasus kehilangan bolpen, penggaris, atau bahkan cethok.
Saya juga menjumpai kasus dimana seorang rekan mengaku telah memiliki penggaris
yang ditemukannya di Jumantono, lantas diaku sebagai miliknya karena tidak
beridentitas. Oh ya, gak usah bawa bolpen mahal kayak Hitech ke lahan ya,
maneman..
0 komentar: