Ruth memandang layar hapenya,
membaca pesan masuk yang baru saja diterima dari Hilal, sahabatnya.
‘lagi di Jogja nih. Ketemuan?’
Ruth tersenyum lebar. Dengan
cepat ia mengetik sms balasan untuk Hilal
‘pasti
lah! Besok yuk, tempat biasa?’
Keesokan harinya
Ruth celingak-celinguk mencari Hilal.
Tempat makan itu penuh sesak –seperti biasa- dan dengan mudah Ruth menemukan
seseorang yang dicarinya sedari tadi. Hilal duduk di dekat jendela, sendirian
–tentu saja-, asyik bermain hape.
‘Hilal! Gila, kangen banget nih
sama kamu’ tepukan di bahu dan sapaan Ruth yang khas membuat Hilal sudah
terbiasa dan tidak kaget lagi karenanya. Hilal hanya tersenyum dan memandang
kursi di depannya, mempersilahkan Ruth untuk duduk.
Ruth paham betul “cara kerja” Hilal
yang unik. Tentu saja ia paham, sudah bertahun-tahun lamanya ia berteman dengan
Hilal dan Hilal tidak pernah berubah.
‘Apa kabar Ruth? Kok sendiri?’
Tanya Hilal setelah Ruth duduk di depannya
Ruth tertawa ringan mendengar pertanyaan
Hilal. ‘Baik Lal, kamu?’
‘Baik.. Hei kamu belum jawab
pertanyaanku Ruth. Kok sendiri?’
‘Biasanya kan aku juga sendirian
kalo ketemu sama kamu.’
‘Oh iya. Udah bisa nonton bioskop
sendirian? Gak perlu ditemenin lagi?’
‘Hahahaha sialan kamu Lal. Kalo
gak sama kamu kan aku bisa nonton bareng-bareng sama temen-temen yang lain.
Temenku banyak, Lal. Gak kayak kamu.’ Ejek Ruth sambil melihat sekeliling,
heran karena tidak ada pelayan yang mendekati mereka.
‘Udah aku pesenin menu kok,
tenang aja.’ Kata Hilal seakan bisa membaca pikiran Ruth. ‘Banyak temen, tapi
masih ngerasa sendirian, kan? Temenmu cowok juga banyak, kenapa gak nonton
berdua kayak aku sama kamu?’
Ruth mengangkat sebelah alisnya.
‘Tau deh Lal. Jalan sama kamu kan tulus. Temen yang lain diajakin jalan berdua?
Bah mikirnya udah kemana-mana. Udah ngerasa aku modusin. Makanya aku gak mau.
Makanya aku maunya sama kamu.’
Pelayan datang mengantarkan
pesanan minuman mereka. Hilal menyesap sedikit, bersiap mendebat Ruth lagi.
Bertemu dengan Ruth tidak akan lengkap tanpa perdebatan.
‘Lho.. kalo aku mikirnya juga
macam-macam gimana?’
‘Gak mungkin kamu mikir
macam-macam. Impossible, Lal.’
‘Emang kamu bisa baca pikiranku?’
‘Halaah. Kayak baru kenal aja.
Kita udah lama temenan lho, Lal. Kamu juga, tiap ketemu selalu bahas topic ini
terus. Harus gitu ya, nonton bioskop sendirian? Harus gitu ya, pergi
sendirian?’
‘Gimana aku gak mau bahas topic
ini terus, gak ada topic lain sih.’
‘Lah kan banyak. Kerjaan kita,
temen-temen sekolah kita.’
‘Pasangan hidupmu?’ Kata Hilal
memotong ucapan Ruth.
‘Gak ada. Gimana kalo pasangan
hidup Hilal aja?’
‘Gak punya.’
‘Bohong. Bohong banget. Aku liat
di Twitter kamu sering galau gak jelas.’
‘Lho, kamu stalking Twitterku ya?
Ciee.’
‘Habisnya sih, kamu gak pernah
cerita. Aku kan penasaran.’
‘Apanya yang mau diceritain kalo
emang gak ada yang bisa diceritain?’
‘Terus kamu galau tentang siapa
di Twitter? Gak ada asap kalo gak ada api Lal.’
‘Bukannya kamu juga sering galau
di blog?’
‘Nah lho. Kamu ternyata stalking
blogku juga?’
‘Blog kan bisa dibaca semua
orang, bukan stalking dong namanya.’
‘Twiter juga bisa dibaca semua
orang. Post galau di blogku udah lama banget ya Lal, gak mungkin kalo gak
stalking.’
‘Berarti udah lama gak galau
dong? Atau malah belum move on juga? Ckck’
‘Udah lah Lal. Sehebat apa dia
sampe aku belum bisa move on?’
Pelayan datang mengantar pesanan
makanan mereka. Hilal tidak merasa lapar. Ia masih ingin berdebat dengan Ruth.
Begitu juga dengan Ruth. Dia masih memandangi Hilal, menantang untuk
mendebatnya kembali.
‘Buktinya masih aja sendiri.’
‘Hei.. bukannya kamu juga masih
sendiri?’
‘Aku emang lagi pengen sendiri.’
‘Halah. Bertahun-tahun samaa aja
jawabannya, “aku emang lagi pengen sendiri”. Basi, Lal.’
Hilal hanya tersenyum memandang Ruth.
‘Yuk, makan dulu lah. Gak pake debat.’
Dengan patuh Ruth mengambil
sendok dan memakan masakan yang sudah dipesan Hilal. Hilal selalu ingat makanan
dan minuman kesukaan Ruth di tempat ini. Hilal selalu duduk di tempat yang
sama, selalu datang lebih awal daripada Ruth. Hilal tidak banyak berubah,
wajahnya, sifatnya, suaranya, masih sama. Padahal sudah berbulan-bulan mereka
tidak bertemu. Hilal bekerja di luar kota, tapi ketika mampir di kota ini dia
akan selalu menghubungi Ruth.
Ruth menghabiskan makanannya
lebih cepat daripada Hilal. Dipandanginya Hilal lagi, mengingat-ingat kapan
terakhir kali mereka bertemu dan apa yang mereka perdebatkan. Hilal meletakkan
sendoknya.
‘Ada apa? Mulai naksir aku?’ Kata
Hilal tersenyum
‘Gak usah senyum-senyum mesum.’
‘Siapa yang mesum? Hah.’
‘Hilal..’
‘Hm?’
‘Gak jadi ding.’
‘Lho.. Mau cerita? Ayo dong
cerita. Mau cerita kalo belum bisa move on? Boleh.’
‘Kamu gay?’
‘Astaga. Ya enggak lah! Kok tanya
kaya gitu sih?’
‘Habisnya jomblo mulu.’
‘Belum ada yang cocok.’
‘Masak ga ada? Gak sepi apa hidup
sendiri gitu? Hahaha.’
‘Kamu juga sendiri kan, bawel.’
‘Tapi kan temenku banyak.’
‘Banyak, cowok semua. Giliran
yang satu merasa dapet harapan, kamu tinggalin. Cari yang lain lagi, dimodusin,
tinggalin. Kapan seriusnya, Ruth?’
‘Mereka Cuma temen kok, gak ada
yang aku modusin. Gak ada yang aku ajak nonton berdua.’
‘Hahahaha. Jangan gitu lah Ruth.
Move on dulu, baru cari cowok yang bener.’
‘Lal, nyadar gak sih kita selalu
membahas topic yang sama tiap ketemu?’
‘Yup.’
‘Dan selalu mendebatkan hal yang
sama?’
‘Yup.’
‘Gak capek apa?’
‘Gak capek apanya? Sendirian? Aku
sih enggak. Kalo kamu sih gatau ya hahaha.’
Ruth memandang jam tangannya. Ia
harus segera pergi ke gereja.
‘Mau pergi, ya?’ Kata Hilal
melihat Ruth yang mengecek jamnya.
‘Iya nih Lal, ke gereja.. Gak
papa kan?’
‘Gak papa lah. Iya udah yuk, aku
anter ke parkiran. Bawa kendaraan? Atau kalo nggak aku anterin.’
‘Bawa kok. Yuk.’ Ruth dan Hilal
bangkit dari kursinya. Seperti biasa, Hilal yang membayar. Harga dirinya
terlalu tinggi untuk ditraktir Ruth. Ruth sih, untung-untung saja ditraktir Hilal.
Mereka berjalan berdampingan. Ruth
yang terbiasa berjalan cepat harus mengimbangi Hilal yang berjalan santai.
Mereka mengobrol, berdebat lagi, saling menggoda, tertawa, hingga sampai di
parkiran.
‘Hati-hati ya Ruth. Makasih udah
mau ketemu.’ Kata Hilal dibalik kaca mobil Ruth
‘Aku yang berterima kasih Lal
karna kamu mau ketemu. Padahal kan kamu pasti sibuk sama acara Idul Fitri di
rumah eyang.’
Hilal tersenyum karna Ruth hapal
betul alasan Hilal datang ke kota ini. Sebagai cucu pertama di keluarga besar
ayahnya, Hilal harus selalu hadir dalam acara Idul Ftiri di rumah eyang di kota
ini. Kota yang mengenalkannya pada Ruth.
‘Besok aku balik, Ruth. Sampai
jumpa lagi ya.’
‘Lho, cepet amat?’
‘Iyanih, gak mau ambil cuti banyak,
biar bisa liburan panjang besok akhir tahun.’
‘Oke deh Hilal. Aku pulang ya.’
‘Bye.
Hati-hati.’ Hilal melambai pada mobil Ruth yang semakin menjauh.
‘Ada sms dari Rianti di Salatiga
nih, halo kak request lagunya Maliq yang Coba Katakan dong, khusus buat seseorang
yang friendzone-in aku hiks. Oke deh Rianti kita langsung puterin lagunya aja
ya, Maliq and D’essentials, Coba Katakan.’
Ruth memperbesar volume radio di
mobilnya. Lagu ini selalu jadi lagu favorit Ruth. Setiap mendengar lagu ini,
pikiran Ruth langsung tertuju pada Hilal. Belum 5 menit berpisah rasa rindunya
sudah menggebu-gebu kembali. Ruth menghela napas panjang karena harus menunggu
berbulan-bulan lagi untuk bisa bertemu dengan Hilal, berdebat tentang hal yang
sama, menertawakan postingan galau mereka di media sosial.
‘Sampai
kapan kayak gini terus, Lal?’ Batin Ruth yang terus melajukan mobilnya menuju
gereja. Satu dua tetes air mulai jatuh dari sudut mata Ruth.
Hilal memutuskan untuk membeli teh
tarik dulu sebelum pulang ke rumah eyangnya. Ia menuju foodcourt dan langsung
memesan teh tarik untuk dibawa pulang. Sayup-sayup terdengar lagu Coba Katakan
dari Maliq and D’essential.
Hilal mendengarkan lirik lagu
itu, dan membayangkan Ruth yang baru saja ditemuinya. Ruth yang masih tetap
cantik sejak pertama kali bertemu, Ruth yang manja dan tidak suka didebat. Ruth
yang menjadi satu-satunya kerinduan di kota ini. Ruth yang membuatnya bertahan
dengan tradisi “pulang kampung.”
‘Maaf Ruth. Aku memang terlalu
pengecut, bahkan untuk mengejar impianku sendiri.’ Batin Hilal sambil membayar
teh tarik pesanannya dan berjalan pulang.
coba coba katakan kepadaku
bahwa kita sedang berjalan
menuju satu alasan
janganlah kau katakan bila
kita memang tak ada tujuan
dari apa yang dijalankan
aku tak ingin terus terdiam
memandangi harapan
terlena akan manis cinta dan
berujung kecewa
aku tak ingin terus menunggu
sesuatu yang tak pasti
lebih baik kita menangis dan
terluka hari ini
coba coba katakan kepadaku
skali lagi bila kita
memang benar akan kesana
buktikan dan buatlah ku percaya
bahwa kita bisa
mewujudkan bahagia
habis sudah semua rangkai kata
tlah terungkap semua yang ku rasa
yang ku ingin akhir yang bahagia
-bukan kisah nyata. Kadang ni
otak suka berkhayal gak jelas tiap mendengarkan lagu. Thanks for reading!-
0 komentar: